RSS

Waralaba, Alternatif Usaha Dikala Krisis

02 Nov

Bagi yang berniat memulai usaha, masalah pertama yang dihadapi adalah bidang usaha apa yang sebaiknya dijalankan. Mungkin kelihatan remeh. Namun sesungguhnya mempunyai bobot yang besar sekali artinya dan amat menentukan masa depan perusahaan yang akan didirikan. Bahkan kemungkinan besar juga menentukan masa depan pengusaha sendiri.
Sebuah usaha yang berpeluang berjalan dengan lancar adalah usaha yang tingkat persaingannya kecil, tetapi tingkat kebutuhan pada konsumennya tinggi. Tentu dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lainnya sudah terpenuhi. Untuk bisa menekan tingkat persaingan sampai sekecil mungkin, maka seyogyanya produk yang akan dijual merupakan produk yang mempunyai sifat-sifat orisinil, belum pernah dibuat orang lain, atau bila produk itu berupa produk yang sudah ada sebelumnya, sebaiknya mempunyai nilai tambah yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.
Banyak kejadian memperlihatkan bahwa kecenderungan orang untuk memulai usaha adalah dengan mengikuti trend saat tertentu. Misalnya, kalau sekarang banyak orang mendirikan ruko, maka dengan anggapan usaha yang diminati banyak orang itu pasti menguntungkan, lalu beramai-ramai ikut mendirikan ruko. Pola berpikir seperti ini terlalu menggampangkan, seakan-akan menyamakan trend bisnis dengan trend mode. Dibidang mode, kalau misalnya sedang digemari potongan rambut crew-cut, tidak ada masalah bagi siapa saja untuk meniru. Akan tetapi, kalau meniru bidang usaha yang sudah begitu banyak orang lain menjalankannya sama saja terjun ke dalam suatu lahan yang sudah penuh sesak dengan persaingan. Sulit untuk bisa berkembang dalam situasi yang demikian, apalagi bila sebagai pendatang baru yang sudah terlambat.
Menurut Ketua Dewan Pengarah Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali), Amir Karamoy, situasi dan kondisi ekonomi dunia yang terjadi pada saat ini merupakan saat yang tepat bagi masyarakat untuk masuk ke dalam sector usaha yang dimiliki pengusaha local. Pengalaman krisis ekonomi 1998 menunjukan, usaha yang banyak mempergunakan produk local saja yang mampu bertahan menghadapi krisis.
Karena itulah, tambah dia, sekaranglah waktunya bagi masyarakat untuk berusaha dengan system waralaba yang dimiliki lokal. Dalam waktu singkat, keuntungan yang didapatkan bisa mencapai tiga hingga empat kali lipat. Angka tersebut relative lebih tinggi daripada hanya menyimpan uang di bank. ”Memang ada resikonya. Tapi saya rasa semua usaha pasti ada resiko,” tuturnya, di Jakarta.
Pada saat ini, sistem waralaba memiliki prospek yang lebih menjanjikan. Karena beberapa waktu lalu pemerintah telah menetapkan aturan hokum yang jelas mengenai jenis usaha ini, yakni PP No42/2007 dan peraturan menteri perdagangan No.31/2008. Sehingga masyarakat yang membeli system waralaba tidak lagi dikatakan membeli kucing dalam karung.
Namun begitu, masyarakat yang akan mengikuti system waralaba harus tetap waspada dan meminta penjelasan yang sedetil-detilnya usaha yang akan dijalankan. Khususnya yang terkait dengan managemen usaha hingga besar keuntungan yang akan diperoleh dalam jangka waktu tertentu.
Aturan hokum tersebut tentunya akan menjadikan bisnis waralaba di Indonesia menjadi lebih berkualitas. Karena itulah, dia menyambut baik keterlibatan pemerintah dan berharap keikutsertaan pemerintah dapat terus memberikan dorongan yang optimal bagi pertumbuhan waralaba dan lisensi local.
Bahkan dimasa mendatang perusahaan waralaba diperkirakan akan lebih bankable dan dari aspek financial akan lebih baik lagi. Tapi tentunya, calon pengusaha waralaba harus tetap berupaya untuk independent. Agar kerja yang dilakukan tidak dilandasi oleh berbagai kepentingan tertentu.
Amir memperkirakan, waralaba yang memiliki prospek yang cukup baik di tahun-tahun mendatang antara lain waralaba di bidang pendidikan, kesehatan, makanan dan yang berhubungan dengan anak-anak. Ini karena waralaba jenis tersebut memiliki pasar yang relative besar dan bahkan cenderung dianggap sebagai kebutuhan utama masyarakat.
Ketua Umum Wali Levita Supit, menjelaskan, masyarakat yang mengikuti bisnis waralaba cenderung terus meningkat. Ini karena untuk mengikuti system bisnis ini, masyarakat tidak perlu mengeluarkan investasi yang besar. Keuntungan yang didapatkan relative tinggi. Sementara resiko yang kemungkinan dihadapi investor juga tidak terlalu tinggi.
Waralaba lokal telah berkembang pesat sejak krisis ekonomi tahun 1997 hingga kini. Pada 2007, pertumbuhan bisnis waralaba di Indonesia mencapai 27 persen. Pada saat ini, jumlah perusahaan waralaba sekitar 800 perusahaan waralaba. Di perkirakan,hingga akhir tahun ini, pertumbuhan perusahaan waralaba mencapai 30 persen.
Trend positif tersebut dikarenakan dalam system usaha ini, masyarakat tidak perlu mempergunakan bahan baku impor. Sehingga, masyarakat semakin gemar mengikuti system bisnis waralaba. Bukan hanya di Jakarta tapi juga di sejumlah daerah. ”Semakin luas jaringannya, akan memperbanyak SDM,” tuturnya.
Dia menilai, mengikuti usaha dengan system waralaba akan sangat menguntungkan bagi masyarakat yang hendak membuka usaha. Karena dengan system ini, masyarakat akan diberikan bimbingan bagaimana cara menjadi pengusaha waralaba. Masyarakat yang mengikuti usaha dengan system ini juga akan mendapatkan bantuan berupa IT, riset produk dan pasar. Sehingga bisa mendapatkan keuntungan yang maksimal. Tidak heran kalau hampir sebagian besar masyarakat yang mengikuti system usaha waralaba adalah pemula.
Sedikit berbeda dengan seniornya, Levita malah lebih lebih menjagokan waralaba bidang makanan yang akan menjadi pilihan utama pada tahun-tahun mendatang. Indikasinya terlihat dari terus meningkatnya permintaan masyarakat terhadap berbagai jenis makanan. Padahal, hampir setiap sudut jalan sudah banyak pedagang yang menjual makanan.
Sementara konsultan franchise Burang Riyadi menjelaskan, walaupun tengah krisis ekonomi, namun usaha waralaba tetap akan bisa berkembang karena kuatnya system jaringan usaha waralaba. Seperti contoh Alfamart dan indomaret yang sudah mencapai ribuan outlet.
Dengan kondisi sekarang, masyarakat merasa tidak bias lagi hanya mengandalkan dari uang gaji. Karena itu, bisnis merupakan alternative untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Mengambil bisnis dengan system waralaba bisa menjadi pilihan utama dalam bisnis.
Namun, ia mengingatkan tidak semua bisnis waralaba yang ditawarkan bisa menguntungkan. Karena itu sebelum memulai usaha, sebaiknya mengevaluasi keuntungan dan kerugiannya. Misalkan saja dengan menjawab pertanyaan apakah sudah waktunya membuka usaha sendiri, untuk investasi atau dijalankan sendiri, fasilitas apa yang dimiliki, seperti apa hubungan kerjasamanya nanti, dan berapa dana yang dipersiapkan. ”Sebaiknya jangan semua dana diinvestasikan di bisnis ini karena kita juga harus siapkan dana untuk kebutuhan sehari-hari,” nasihat Burang. (Seputar Indonesia)

About these ads
 
1 Komentar

Posted by pada November 2, 2008 in wealth management

 

One response to “Waralaba, Alternatif Usaha Dikala Krisis

  1. orchi

    Maret 12, 2010 at 13:50 p03

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: