RSS

Peluang Usaha Mebel Masih Baik

29 Des

Tingkat kebutuhan yang tinggi terhadap mebel dari tahun ke tahun selalu meningkat, jauh melebihi tingkat pertumbuhan penduduk dan atau tingkat pertumbuhan rumah tangga baru di Indonesia. Hal ini berarti bahwa mebel dibutuhkan bukan hanya karena fungsinya saja, tapi sudah masuk pada pemenuhan kebutuhan selera.
Furnitur kini telah menjadi produk fashion, mode, dan gaya hidup. Di lain pihak, ketersediaan barang mebel itu juga sudah sedemikian tingginya sehingga dimana saja, kapan saja, dan pada tingkat harga berapa saja, masyarakat dengan mudah dapat memperolehnya.
Ada beberapa jenis toko mebel. Ada yang sebagai distributor, ada yang berproduksi dengan cara home base atau berbasis di rumah dan memiliki warehouse. Ada yang menjual mebel berkualitas menengah ke atas dan menengah ke bawah. Ini ditentukan pula oleh lokasi dan merek tertentu.
Mebel yang berbasis di rumah, biasanya pembuatan mebel dilakukan setelah dilakukan pemesanan. Penyelesaian mebel dalam kurun waktu berminggu-minggu. Biasanya, pembuatan perlengkapan mebel menggunakan tangan dan amat jarang yang menggunakan mesin.
Namun amat berbeda dengan toko-toko mebel di dalam mal besar seperti Vinotti Living, Floral Home dan lainnya di Jakarta. Toko penjual mebel ini pun memiliki inhouse desainer, interior khusus untuk membantu para konsumen dalam memilih barang sesuai dengan keinginan dan keadaan ruangan. Berbicara masalah kualitas, yang satu ini tidak perlu diragukan lagi. Walaupun memang harga yang harus dibayar untuk menebusnya sangat mahal dan hanya bisa dibeli oleh sekelompok orang atau perusahaan tertentu.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) M Hatta Sinatra prospek usaha mebel pada saat ini dan masa mendatang tetap ada. Hanya saja bagi masyarakat yang hendak membuka usaha pada sector ini sebaiknya lebih berhati-hati. Pasalnya, sejak beberapa bulan terakhir pasar penjualan mebel relative menurun.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari kurang baiknya perekonomian dunia pada beberapa bulan terakhir. Bahkan sekarang, permintaan dari masyarakat ERopa dan Amerika Serikat cenderung menurun. ”Sebaiknya masyarakat yang tidak mempunyai pengalaman pada mebel jangan dulu membuka usaha mebel,” tuturnya saat dihubungi SINDO.
Namun bukan berarti Hatta melarang masyarakat untuk memulai usaha mebel. Hatta hanya ingin memberikan peringatan kalau belum mempunyai pengalaman pada usaha ini, masyarakat akan sedikit kesulitan dalam memasarkan produknya. Padahal pada saat ini penjualan mebel cenderung menurun sedangkan jumlah pengusaha mebel terus bertambah banyak.
Sekarang saja, sejumlah pengusaha mebel telah mengurangi produksinya.
Produksi mebel Indonesia yang dicari pengusaha umumnya berbentuk seperangkat kursi makan, kursi tamu dan kursi taman. Selain itu, sejak beberapa tahun terakhir sejumlah Negara kerap mencari beberapa lemari produksi Indonesia, khususnya lemari model semi klasik.
Kendati begitu, dia berharap, semua pengusaha mebel, khususnya yang baru membuka usaha ini, terus berinovasi dalam menciptakan model-model mebel baru. Kalau tidak, dikhawatirkan mebel produksi Indonesia akan kalah bersaing dengan produk dari Negara lain, khususnya China. Apalagi sejak beberapa tahun terakhir China terus melakukan penetrasi pasar ke berbagai Negara termasuk Indonesia. Kalau itu dilakukan, bukan tidak mungkin pengusaha mebel baru, akan bertahan dalam kondisi seperti sekarang.
Dia menjelaskan, masing-masing toko mebel memiliki target pasar masing-masing dalam mendistribusikan produknya. Ada yang bernuansa antik, klasik, kontemporer, dan modern. Ada yang bermain di pasar menengah ke bawah, tapi ada pula yang bermain hanya untuk kalangan papan atas dan didatangkan dari luar negeri
Untuk memulai usaha mebel, setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp500 juta. Namun dengan dana sebesar itu, sepertinya pengusaha tidak akan bisa mengekspor mebel yang dijualnya. Untuk ekspor mebel, pengusaha minimal mempunyai dana sebesarRp5 miliar. Dana sebesar itu dipergunakan untuk membeli berbagai produk mebel yang sedang ngetren dan paling banyak dibutuhkan. ”Beli mebelnya bisa di pengrajin atau menggaji karyawan sendiri,” terangnya.
Owner Show Room Indo Jati Furniture, Mahfuzi, mengatakan, untuk pengusaha besar. Penjualan mebel tidak bisa hanya dilakukan dengan membuka showroom. Sejumlah pameran baik yang dilakukan di dalam negeri ataupun luar neger mebel, harus juga diikuti. Tujuannya adalah sebagai informasi kepada calon pembeli mengenai berbagai produk mebel yang dijual.
Pemilik show room di Jalan Pahlawan Revolusi No. 2, Klender, ini, mengakui, kalau sejak beberapa bulan terakhir terjadi penurunan penjualan mebel, khususnya di Negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Namun begitu, pihaknya telah mencoba mengalihkan penjualan mebel kebeberapa Negara Timur Tengah.
Penjualan mebel di dalam negeri nampaknya belum terlalu terpengaruh oleh krisis ekonomi yang terjadi di luar negeri. Ini karena industri property di Indonesia relative masih bisa bertahan. Dan biasanya, masyarakat yang baru membeli rumah akan segera membeli mebel untuk mengisi rumah.
Karena itulah, bagi masyarakat yang hendak mencari peruntungan menjadi pengusaha mebel baru tetap terbuka. Hanya saja, harus tetap melihat peluang pasar khususnya dalam menjual produk mebel. Apakah memilih target perkantoran, individu atau kedua-duanya. Selama industri property masih terus tumbuh, maka industri mebel akan mengikuti.
Hanya saja Mahfuzi mengakui bahwa persaingan di bisnis mebel di Indonesia semakin lama semakin tinggi. Pertama, katanya, kondisi itu dipicu oleh derasnya produk-produk impor yang membanjiri pasar domestik. Kedua, bertambahnya pesaing atau munculnya pemain-pemain baru. Dan ketiga, adanya tuntutan konsumen yang semakin selektif memilih produk dengan kualitas tinggi
Berdasarkan pengalamannya dalam menjual mebel, setidaknya ada tiga pasar mebel yang bisa dijadikan target, yakni kelas bawah, menengah dan atas. Kelas bawah adalah mebel seharga Rp1 juta hingga Rp3 juta. Kelas menengah seharga Rp3,1 juta hingga Rp10 juta. Sedangkan kelas atas, kerap membeli mebel yang harganya di atas Rp10 juta. Kelas tersebut disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dalam membeli mebel
Namun kalau harga dolar terus menguat, dia khawatir, penjualan mebel akan berkurang signifikan. Ini karena harga mebel akan membumbung tinggi. Kondisi tersebut pernah terjadi pada 1998 lalu. Karena itulah, dia berharap agar otoritas moneter bisa menjaga stabilitas nilai tukar.
Setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki calon pengusaha mebel sebelum memulai usaha, yakni mencari tempat strategis, pengetahuan membaca pasar, dan memiliki inovasi. Ke tiga hal tersebut akan menjadi factor yang menentukan dalam kesuksesan membuka bisnis mebel.
Kalau mebel tersebut hendak dieskpor, maka calon pengusaha mebel harus bisa menjaga kualitas mebel yang dibuat. Sebab masyarakat mancanegara tidak hanya melihat keunikan dan keindahan mebel yang dijual. Tapi juga kualitas mebel yang dihasilkan. ”Semakin berkualitas, tentu semakin baik,” tuturnya. (Seputar Indonesia

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 29, 2008 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: