RSS

Rumah Sederhana, Kenapa Tidak?

21 Sep

Dalam rangka peningkatan taraf hidup masyarakat melalui penyediaan perumahan secara merata, khususnya bagi berpenghasilan rendah, sangat rendah dan berpenghasilan informal. Pemerintah pun mengeluarkan aturan agar perumahan murah yang dibangun pengembang tidak hanya layak dan terjangkau. Melainkan juga tetap memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan.
Rumah sederhana sehat memungkinkan penghuni untuk dapat hidup sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak. Karena itulah, pada prinsipnya rumah sederhana harus tetap memperhatikan beberapa ketentuan. Beberapa diantaranya adalah, kebutuhan luas per jiwa dan kebutuhan luas per kepala keluarga (KK).
Untuk memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan dipengaruhi tiga aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan kelembaban dalam ruangan. Aspek-aspek tersebut merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat dan nyaman.
Rumah harus sehat karena akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental penghuni rumah. Apalagi, rumah bukan lagi sekadar tempat menumpang tidur. Tapi juga sebagai tempat untuk melakukan berhubungan social dengan lingkungan.
Menurut Direktris Jones Lang LaSalle Lucy Rumantir, peminat kawasan hunian Rumah Sederhana (Rs) Sehat sangat besar. Hanya saja, sebuah penelitian menyebutkan, masyarakat memiliki harapan besar agar pemerintah juga mengkategorikan tipe 36 sebagai Rs Sehat. Pasalnya, tipe Rs Sehat yang ada sekarang dianggap tidak lagi memadai.
Dia menjelaskan, masyarakat yang mencari rumah dengan harga Rp150 juta-an sebenarnya jumlahnya cukup banyak. Hanya saja, penawaran rumah dengan harga sebesar itu sangat minim. Pengembang lebih banyak membangun rumah di atas Rp200 juta atau di bawah Rp100 juta. Karena tidak mampu membeli rumah yang harganya di atas Rp200 juta, masyarakat terpaksa membeli rumah Rs Sehat atau rumah dibawah Rp100 juta.
Berdasarkan itulah, jelas Lucy, pasar rumah Rs Sehat sangat besar. Selain karena factor tersebut, rumah Rs Sehat menjadi pilihan karena mendapatkan subsidi dari pemerintah sehingga harganya relative terjangkau. Tidak mengherankan kalau pengembang yang membangun rumah di bawah Rp100 juta jumlahnya cukup banyak.
Karena harganya relative murah, sebagian besar kawasan perumahan yang banyak membangun rumah Rp100 juta-an memiliki lokasi yang cukup jauh dari tempat aktivitas penghuni. Kendati begitu, sepertinya masyarakat tidak mempersoalkan itu asalkan akses transportasi dari dan menuju kawasan perumahan tersedia banyak pilihan, baik kereta api ataupun angkutan umum. ”Masyarakat tidak mempersoalkan bila harus menghabiskan waktu 1,5 jam dari rumah menuju tempat aktivitasnya,” tuturnya saat dihubungi SINDO.
Dari beberapa daerah satelit Jakarta, Bogor merupakan daerah yang paling banyak diminati sebagai tempat membangun kawasan perumahan seperti itu. Setelah itu diikuti Depok dan Tangerang. Daerah Bekasi kurang mendapatkan perhatian karena akses transportasi umum dari dan menuju kawasan perumahan di Bekasi dianggap kurang memadai.
Biasanya, kawasan perumahan Rs Hemat atau di bawah Rp150 juta sangat minim faslitas. Pengembang hanya menyediakan fasilitas tanah agar bisa dipergunakan penghuni. Kalau memungkinkan, masyarakat bias membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan dengan cara swadaya.
Dalam kesempatan itu, dia juga menerangkan, pemberian subsidi tidak hanya diperuntukan bagi masyarakat yang membeli Rs Sehat. Karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi bagi masyarakat yang membeli apartemen yang harga maksimalnya Rp144 juta. Langkah ini dilakukan agar masyarakat menengah bawah juga bisa tinggal di Jakarta.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria, mengatakan, pembatasan harga bagi rumah RS Sehat cukup merepotkan pengembang. Pasalnya, pengembang tidak bisa banyak bergerak akibat harga bahan bangunan yang terus naik.
Dengan kondisi seperti itu, pengembang melakukan beberapa cara agar bisa menutupi kekurangan biaya pembangunan rumah. Mulai dari menurunkan tipe rumah yang dibangun, hingga tidak membuat ornamen-ornamen bangunan yang tidak terkait dengan konstruksi bangunan.
Dia menyebutkan, masyarakat yang memerlukan Rs Sehat sangatlah besar. Kalau harga rumah Rs Sehat yang dibangun pengembang mengalami kenaikan, masyarakat berpenghasilan rendah akan kesulitan untuk memiliki rumah sendiri. Sebab, pada saat ini harga-harga kebutuhan masyarakat cenderung naik.
Karena itu, sebaiknya pemerintah memikirkan cara yang lebih efektif dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Diantaranya dengan menyediakan subsidi yang lebih besar pada sektor perumahan. Bila pembangunan rumah bersubsidi yang dibangun pengembang tersendat, secara tidak langsung pasti berdampak pada pembelian rumah. Padahal, pemerintah telah memiliki komitmen untuk terus mengurangi jumlah masyarakat yang tidak memiliki rumah.
DAlam kesempatan itu, dia menambahkan, rumah seharga Rp55 juta ke atas hingga Rp150 juta ternyata mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Biasanya, masyarakat yang membeli rumah di atas Rp55 juta telah berpendapatan cukup memadai. ”Mereka menginginkan rumah yang lebih luas daripada Rs Sehat,” terangnya. Dia menambahkan, jumlah pengembang yang membangun rumah di bawah Rp200 juta cukup banyak.
Kawasan perumahan Rs Sehat atau yang seharga Rp150 juta ke bawah memiliki jarak yang relatif jauh dari pusat kota. Pasalnya, harga tanah di daerah tersebut relative masih murah. Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan pengembang masih sesuai dengan patokan pemerintah.
Kendati begitu, kawasan perumahan untuk masyarakat menengah bawah yang dibangun pengembang harus tetap memiliki akses transportasi. Hal itu penting karena merupakan daya tarik masyarakat membeli rumah dalam kawasan hunian. Karena itulah, rumah yang tidak dekat dengan akses transportasi kurang diminati masyarakat.
Dia menerangkan, kawasan perumahan menengah bawah biasanya tidak hanya terdiri dari Rs Sehat. Beberapa unit rumah dengan tipe yang lebih besar juga dibangun agar pengembang bisa melakukan subsidi silang dari Rs Sehat yang dibangun pengembang. ”Biasanya pada kawasan perumahan menengah, rumah dengan tipe 36 tidak terlalu banyak dibangun,” tuturnya.
Sementara, pengamat property Ali Tranghada, menjelaskan, sebagian besar rumah dengan pasar Rp100 juta ke bawah ditopang Kredit Perumahan Rakyat (KPR). Rencana perbankan menaikkan bunga KPR tentu membawa dampak negative bagi penjualan rumah seharga Rp100 juta ke bawah. Namun, penurunan penjualan baru dapat dirasakan tiga bulan setelah perbankan menaikkan bunga KPR.
Dia mengaku tidak mengetahui dengan pasti berapa besar penurunan penjualan rumah Rp seharga Rp100 juta ke bawah. Namun sebuah penelitian menyebutkan, kenaikkan 1% bunga KPR akan mengurangi penjualan rumah antara 4% hingga 5%. Angka tersebut belum termasuk permintaan tertunda yang diperkirakan mencapai 12%.
Kondisi seperti itu, akhirnya memaksa pengembang menurunkan pangsa pasarnya. Tujuannya adalah agar rumah yang tengah dibangun pengembang bisa laku terjual. Tapi tentunya, pengembang juga menurunkan kualitas rumah yang dibangun, seperti tidak lagi mempergunakan keramik kelas satu atau menghilangkan sejumlah ornament yang tidak penting. ”Kendati begitu, masyarakat akan tetap membelinya. Karena alasan masyarakat menengah bawah membeli rumah adalah kebutuhan,” tuturnya.

tulisan ini pernah dimuat di koran seputar indonesia

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 21, 2008 in properti

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: