RSS

Hidup Nyaman di Rumah Sederhana

23 Sep

DI TENGAHgencarnya pembangunan perumahan kelas menengah atas,beberapa pengembang masih melirik segmen properti dengan harga terjangkau.Yakni mengembangkan rumah murah di bawah Rp100 jutaan

Pemerintah mengeluarkan aturan agar perumahan murah yang dibangun pengembang tidak hanya layak dan terjangkau, melainkan juga tetap memenuhi persyaratan kesehatan, keamanan, dan kenyamanan.Rumah sederhana sehat (Rs Sehat) memungkinkan penghuni untuk dapat hidup
sehat, dan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari secara layak.
Karena itulah, pada prinsipnya rumah sederhana harus tetap memperhatikan beberapa ketentuan. Beberapa di antaranya adalah, kebutuhan luas per jiwa dan kebutuhan luas
per kepala keluarga (KK).
Untuk memenuhi syarat kesehatan dan kenyamanan dipengaruhi tiga aspek,yaitu pencahayaan,penghawaan, serta suhu udara dan kelembapan dalam ruangan.Aspek-aspek tersebut merupakan dasar atau kaidah perencanaan rumah sehat dan nyaman.
Rumah harus sehat karena akan berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental penghuni rumah.Apalagi rumah bukan lagi sekadar tempat menumpang tidur.Tapi juga sebagai
tempat untuk melakukan berhubungan sosial dengan lingkungan.
Menurut Direktur Jones Lang LaSalle Lucy Rumantir, peminat kawasan hunian Rs Sehat sangat besar. Hanya, sebuah penelitian menyebutkan, masyarakat memiliki harapan besar agar pemerintah juga mengategorikan tipe 36 sebagai Rs Sehat. Pasalnya, tipe Rs Sehat yang
ada sekarang dianggap tidak lagi memadai.
Dia menjelaskan, masyarakat yang mencari rumah dengan harga Rp150 jutaan sebenarnya jumlahnya cukup banyak.Hanya saja,penawaran rumah dengan harga sebesar itu sangat
minim. Pengembang lebih banyak membangun rumah di atas Rp200 juta atau di bawah Rp100 juta. Karena tidak mampu membeli rumah yang harganya di atas Rp200 juta, masyarakat
terpaksa membeli rumah Rs Sehat atau rumah di bawah Rp100 juta.
Berdasarkan itulah, Lucy menyebutkan, pasar rumah Rs Sehat sangat besar. Selain karena faktor tersebut, rumah Rs Sehat menjadi pilihan karena mendapatkan subsidi dari pemerintah
sehingga harganya relatif terjangkau. Tidak mengherankan kalau pengembang yang membangun
rumah di bawah Rp100 juta jumlahnya cukup banyak. Karena harganya relatif murah,
sebagian besar kawasan perumahan yang banyak membangun rumah Rp100 jutaan memiliki lokasi yang cukup jauh dari tempat aktivitas penghuni. Kendati begitu, sepertinya
masyarakat tidak mempersoalkan itu asalkan akses transportasi dari / dan menuju kawasan perumahan tersedia banyak pilihan, baik kereta api ataupun angkutan umum.
”Masyarakat tidak mempersoalkan bila harus menghabiskan waktu
1,5 jam dari rumah menuju tempat aktivitasnya,” tuturnya saat dihubungi SINDO. Dari beberapa daerah satelit Jakarta, Bogor merupakan daerah yang paling banyak diminati
sebagai tempat membangun kawasan perumahan seperti itu. Setelah itu diikuti Depok dan Tangerang. Daerah Bekasi kurang mendapatkan perhatian karena akses transportasi umum dari/dan menuju kawasan perumahan di Bekasi dianggap kurang memadai. Biasanya, kawasan perumahan Rs Sehat atau di bawah Rp150 juta sangat minim fasilitas.
Pengembang hanya menyediakan fasilitas tanah agar bisa dipergunakan penghuni.Kalau memungkinkan, masyarakat bisa membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan dengan
cara swadaya.
Lucy menerangkan, pemberian subsidi tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat yang membeli Rs Sehat. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan untuk memberikan subsidi bagi masyarakat yang membeli apartemen yang harga maksimalnya Rp144 juta. Langkah ini dilakukan
agar masyarakat menengah bawah juga bisa tinggal di Jakarta.
Ketua Umum DPP Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria mengatakan, pembatasan harga bagi rumah Rs Sehat cukup merepotkan
pengembang. Sebab, pengembang tidak bisa banyak bergerak akibat harga bahan bangunan
yang terus naik.
Karena itu, sebaiknya pemerintah memikirkan cara yang lebih efektif dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Di antaranya dengan menyediakan subsidi yang lebih besar pada
sektor perumahan. Bila pembangunan rumah bersubsidi yang dibangun pengembang tersendat, secara tidak langsung akan berdampak pada pembelian rumah. Padahal, pemerintah
telah memiliki komitmen untuk terus mengurangi jumlah masyarakat yang tidak memiliki rumah.
Fuad menambahkan,rumah seharga Rp55 juta ke atas hingga Rp150 juta ternyata mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Biasanya,masyarakat yang membeli rumah di atas
Rp55 juta telah berpendapatan cukup memadai.”Mereka menginginkan rumah yang lebih luas daripada Rs Sehat,” terangnya. Dia menambahkan, jumlah pengembang yang membangun
rumah di bawah Rp200 juta cukup banyak.
Kawasan perumahan Rs Sehat atau yang seharga Rp150 juta ke bawah memiliki jarak yang relatif jauh dari pusat kota.Sebab,harga tanah di daerah tersebut relatif masih murah.
Dengan begitu, biaya yang dikeluarkan pengembang masih sesuai dengan patokan pemerintah.
Pengamat properti Ali Tranghada menjelaskan, sebagian besar rumah dengan pasar Rp100 juta ke bawah ditopang kredit pemilikan rumah (KPR). Rencana perbankan menaikkan bunga KPR tentu membawa dampak negatif bagi penjualan rumah seharga Rp100 juta ke bawah.Namun,
penurunan penjualan baru dapat dirasakan tiga bulan setelah perbankan menaikkan bunga KPR.
(Seputar Indonesia)

 
Komentar Dinonaktifkan pada Hidup Nyaman di Rumah Sederhana

Ditulis oleh pada September 23, 2008 in properti

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: