RSS

Aman di Rumah Tahan Gempa

11 Okt

HAMPIR seluruh wilayah Indonesia tidak aman dari gempa, kecuali Kalimantan yang relatif tidak memiliki patahan gempa. Semakin ke timur, potensi gempa semakin besar.

Karena itulah, dalam membangun rumah, masyarakat ataupun pengembang diharap bisa membangun rumah dengan kriteria tahan gempa. Data-data terakhir yang berhasil direkam menunjukkan setidaknya setiap tahun terjadi sepuluh kegiatan gempa bumi yang mengakibatkan kerusakan yang cukup besar di Indonesia. Sebagian terjadi pada daerah lepas pantai dan sebagian lagi pada daerah permukiman.

Dengan menggunakan prinsip dan teknik yang benar, detail konstruksi yang baik serta praktis, kerugian harta benda dan jiwa manusia dapat dikurangi. Atas dasar itulah, masyarakat dan pengembang harus benar-benar serius dalam membangun rumah. Mengurangi bahan konstruksi bangunan untuk mengurangi biaya hanya akan berdampak negatif bagi penghuni.

Ada yang menyebutkan tanggung jawab orang yang berkecimpung dalam industri konstruksi adalah mendirikan bangunan sedemikian rupa sehingga bangunan tetap mampu berdiri menahan gaya-gaya inersia (gaya yang ditimbulkan gempa).
Menurut arsitek dari Kalayman Architect Doddy H Subagya, gempa menyebabkan tanah bergeser. Karena itu, rumah yang tidak mempunyai kekuatan fondasi yang kuat sangat rawan terkena dampak langsung dari gempa. Sehingga masyarakat ataupun pengembang harus memperhatikan fondasi rumah dengan membuat sistem balok fondasi.

Mungkin ada baiknya masyarakat tidak membangun rumah di lokasi yang tanahnya rawan bergeser. Misalkan saja di tanah lereng dan pinggir pantai. Selain itu, masyarakat atau pengembang juga perlu menghindari membangun rumah di tanah berpasir dengan kedalaman lebih dari satu meter untuk menghindari likuifaksi (bangunan terangkat ke atas).

Dengan struktur fondasi yang baik, tentu akan bisa menopang bangunan setiap kali terjadi gempa bumi. Karena biasanya sebuah bangunan yang fleksibel akan menerima beban gempa yang lebih kecil dibandingkan bangunan yang lebih kaku. “Ini yang harus disadarimasyarakatdalammembangun rumah,” tuturnya.

Dia menambahkan, bangunan yang lebih ringan juga akan menerima beban gempa yang lebih kecil daripada bangun yang berat. Bukan hanya itu, bangunan yang kenyal akan menyerap beban gempa yang lebih kecil daripada bangunan yang getas. Bangunan ini, dalam keadaan pengaruh gempa, akan tetap elastis atau runtuh secara mendadak.

Penggunaan kayu sebagai bahan bangunan rumah masih disarankan sejumlah arsitek saat membangun rumah. Peningkatan mutu bangunan, baik kualitas ataupun kuantitas juga harus dilakukan. Karena hanya dengan cara itulah, masyarakat tidak perlu khawatir rumah yang ditempatinya akan ambruk. Kalaupun mengalami kerusakan, hanya terlihat retakan kecil pada desain bangunan rumah.

Jika dihitung secara cermat, konstruksi bangunan rumah tahan gempa tidaklah semahal yang diperkirakan banyak orang. Desain bangunan rumah tahan gempa bisa tetap mengikuti tren yang sedang in. “Yang menjadi perhatian adalah konstruksi bangunannya. Kalau desainnya bisa berupa apa saja,” paparnya.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) Teguh Utomo Atmoko menambahkan, membangun rumah di daerah gempa harus mempergunakan cara yang berbeda dibandingkan dengan membangun rumah di daerah yang bukan wilayah gempa. Seperti memperhatikan struktur tanah hingga konstruksi bangunan. Kedua hal itu sangat penting diperhatikan untuk meminimalisasi hilangnya nyawa akibat terkena reruntuhan rumah.

Dengan melakukan perencanaan pembangunan rumah tahan gempa, maka akan mengurangi dampak gempa. Kerusakan struktur atau kerusakan arsitektural pun tidak akan terjadi. Kalaupun terjadi gempa yang hebat, bangunan tidak akan runtuh tetapi hanya mengalami kerusakan pada bagian struktur yang tidak utama atau kerusakan desain saja.

Sejumlah ahli telah membagi Indonesia dalam enam wilayah gempa. Wilayah Gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan wilayah Gempa 6 dengan kegempaan paling tinggi. Wilayah 6, Irian Jaya bagian utara dan Maluku bagian utara. Wilayah 5 sepanjang pantai selatan P Sumatra, laut Banda, dan Seram. Wilayah 4 bagian selatan Pulau Jawa, dan bagian utara Pulau Sulawesi.

Wilayah 3, bagian selatan Pulau Sulawesi, bagian tengah Pulau Sumatera, bagian utara Pulau Jawa. Wilayah 2, bagian timur Pulau Kalimantan, bagian utara Pulau Sumatra. Sedangkan Wilayah 1, adalah bagian barat Pulau Kalimantan. Pembagian wilayah gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat pengaruh gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun.

Karena itulah, dalam membangun rumah, masyarakat juga harus memperhatikan pembagian wilayah tersebut. Hal serupa juga harus dilakukan pengembang yang membangun perumahan, ataupun gedung bertingkat. “Rumah bertingkat atau gedung bertingkat harus memiliki struktur bangunan yang lebih kuat karena gerakan yang terjadi bila terjadi gempa di bangunan tersebut berbeda,” papar Teguh.

Sementara itu, Ketua DPD Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Jawa Timur, Nurhadi, mengatakan, anggotanya belum secara total mengadopsi rumah dengan konstruksi tahan gempa yang telah menjadi ketetapan pemerintah, khususnya yang terkait dengan disain bangunan.

Penyebabnya, desain bangunan tahan gempa akan membuat harga rumah menjadi melambung. Padahal, pemerintah telah menetapkan harga rumah sehat sederhana (Rs Sehat) yang ditetapkan pemerintah hanya Rp55 juta per unit. “Belum lagi kenyataan harga bahan bangunan yang naik,” tuturnya. (sindo)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 11, 2008 in properti

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: