RSS

Bisnis Telepon Seluler, Cukup Menjanjikan

11 Okt

Bisnis telepon seluler (ponsel) terus bergeliat mengikuti
pertumbuhan pengguna di tengah pasar Indonesia yang belum tergarap
seluruhnya. Meski bisnis sejenis ini dan turunannya sudah menjamur di
Indonesia, pelaku-pelaku usaha baru terus berdatangan dengan membawa
pengharapan bisa mendulang kesuksesan seperti pemain lainnya.

“Prospeknya bagus,” ujar Victorianus Wicaksono yang baru lima bulan terjun
di bisnis penjualan ponsel saat dihubungi SINDO di Jakarta kemarin. Pria
berusia 27 tahun yang akrab disapa Icak ini, bahkan sudah bersiap-siap
membuka gerai baru di lokasi yang sama, yaitu ITC Fatmawati dalam waktu
dekat.

Potensi bisnis terbesar, menurutnya, adalah karakteristik masyarakat
Indonesia yang cenderung konsumtif dan terbilang melek merek. Ibaratnya,
ujar dia, setiap model baru pasti dikejar tanpa pertimbangan mendalam soal
harga. “Orang Indonesia termasuk konsumtif terutama dalam hal gaya,” kata
dia.

Seiring perjalanan waktu, ponsel tidak lagi dianggap barang mewah dan
kepemilikannya pun lebih untuk memuaskan gaya hidup sebagai manusia
modern. Bergesernya fungsi ponsel, menjadi salah satu alasan bisnis ini
tidak pernah sepi pemain baru.

Kekuatan lain bisnis ini adalah pertumbuhan pengguna seluler di Indonesia
yang luar biasa cepat. Indonesia, saat ini tercatat sebagai salah satu
pasar terbesar dalam industri seluler di dunia. Mengutip pernyataan GM
Technology Planning PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Dedi Suherman
awal September lalu, pelanggan seluler nasional sampai kuartal II/ 2008
sudah mencapai 116.144.392 orang.

Padahal sampai akhir tahun lalu, pelanggan seluler di Indonesia baru
mencapai 96,41 juta nomor, tumbuh sekitar 51% dibanding 2006 yang sebanyak
63,8 juta nomor. Pencapaian terakhir di kuartal II/ 2008 tadi mendudukkan
Indonesia dalam daftar enam besar negara dengan jumlah pelanggan seluler
terbanyak. Di atas Indonesia ada Brasil yang mencatat jumlah pengguna
seluler sebanyak 134 juta orang sementara posisi teratas ditempati China
dengan angka 585 juta jiwa.

Icak juga sempat menyinggung cepatnya pertumbuhan pengguna seluler di
Indonesia ini sebagai alasannya terjun ke bisnis ponsel. Pertumbuhan yang
cepat ditambah sifat konsumtif masyarakat Indonesia, cukup menjelaskan
seberapa prospektif bisnis ini.

Icak mengaku sudah mencapai titik impas (break even point/ BEP) atau balik
modal hanya dalam tempo lima bulan. “Kita harus terus tambah modal supaya
bisa semakin berkembang,” tuturnya.

Gelagat konsumtif masyarakat Indonesia ini juga ditangkap oleh Masbukhin
Pradhana. “Ganti model, HP-nya (hand phone) juga ikut ganti,” ujar pemilik
gerai Esia di Pulogadung Trade Center ini.

Masbukhin melihat bisnis ini masih menarik untuk digeluti, kendati jumlah
pemainnya sudah luar biasa banyak. Untuk bertahan, sarannya, pedagang
sebagai penyalur harus cepat merespons perubahan produk ponsel dari
produsen agar tidak ditinggal pelanggan.
Persoalan kualitas juga harus menjadi perhatian, terutama saat menawarkan
produk ponsel bekas alias second. Di samping itu, tidak ada salahnya jika
menawarkan layanan purna jual atau servis ponsel, diluar bisnis inti.

Gerai ponsel pertama Masbukhin dibuka di Lamongan Jawa Timur, April 2008
lalu. Berselang lima bulan kemudian, pria berusia 34 tahun ini membuka
gerai Esia di Pulogadung Trade Center.

Menurut Masbukhin, calon pebisnis perlu memikirkan dengan matang penetapan
lokasi gerai, begitu pun dengan ukurannya. Hal ini diamini oleh Icak.
Selain persiapan modal sekitar puluhan juta tadi, lokasi harus diputuskan
secara hati-hati karena akan memengaruhi kemampuan memasarkan produk.
“Kalau memilih mall, pemilihan lantai juga ikut berpengaruh,” kata Icak
yang memilih lantai dasar ITC Fatmawati untuk lokasi gerainya.

Masbukhin yang 2006 lalu menerbitkan buku berjudul Cara Brilian Menjadi
Karyawan Beromset Miliaran ini membagi sedikit kiat bagi calon pebisnis
yang berencana membuka gerai ponsel. Bila ingin menghemat modal,
manfaatkan rumah tinggal untuk mulai buka usaha sekaligus karyakan orang
di rumah. “Misalnya istri untuk menjaga konter sehingga tidak perlu
membayar karyawan,” tulis Masbukhin dalam sebuah situs.

Calon pebisnis, lanjutnya juga perlu sering jalan-jalan ke sentra
penjualan ponsel untuk mendapat referensi harga dan memperluas jaringan
pertemanan. Keuntungan bisa digenjot sebesar-besarnya bila pebisnis jeli
mencari ponsel bekas dengan harga murah dan kualitas memadai. Rujukan
tempat yang bisa dikunjungi adalah Roxy Mas, Trade Center yang tersebar di
beberapa lokasi, termasuk Pulogadung Trade Center.

Sejauh ini, mayoritas pebisnis ponsel mengandalkan produk-produk bekas
untuk menggenjot keuntungan usahanya. Icak mengakui, sekitar 70% produknya
adalah ponsel bekas dan sisanya barang baru. Berdagang ponsel dan
aksesorinya memang cukup menarik mengingat dana yang diperlukan untuk
modal usaha tidak terlalu banyak sementara peluang balik modal, seperti
disampaikan Icak, terbilang cepat. (SINDO)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 11, 2008 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: