RSS

Rumah Berarsitektur Bali Cukup Diminati

24 Okt

 

SEIRING bergesernya gaya hidup masyarakat dan

banyaknya pilihan arsitektur bangunan,pengembang

masih melihat peluang mendapatkan keuntungan dari

membangun kawasan hunian berarsitektur Bali.

 

Sejak beberapa tahun terakhir, masyarakat yang mempergunakan arsitektur tradisional dalam membangun rumah semakin sedikit.Namun, beberapa pengembang masih setia menyediakan kawasan hunian dengan arsitektur

tradisional khususnya Bali. Rumah arsitektur Bali dianggap memiliki nilai lebih karena dapat diterima secara universal, baik masyarakat Indonesia maupun luar negeri. Mengembangkan kawasan hunian dengan arsitektur

Bali, juga dijadikan sebagai alternatif menjual kawasan hunian. Hal itu tidak hanya dilakukan pengembang pada

kawasan hunian menengah atas, tapi juga menengah bawah. Namun, pada segmen menengah atas,pengembang masih menambahkan privasi dan keamanan di kluster yang dibangun.

Manajer Pemasaran Perumahan Tamansari Puri Bali Agung Pribadi mengatakan, rumah yang dibangun di kawasan huniannya merupakan perpaduan arsitektur Bali dan modern minimalis.Perpaduannya membuat rumah

Tamansari Puri Bali menjadi lebihmodern.Karena itu cocok untuk pasangan baru menikah.” Segmen kami memang pada keluarga muda,”katanya saat dihubungi SINDO.

Ketika baru masuk di kawasan hunian yang terletak di Jalan Raya Sawangan Ciputat

Km 1, Depok itu, masyarakat akan langsung melihat gapura khas Bali.Sebuah gerbang

dengan ukiran khas Bali. Tidak jauh dari situ, juga terlihat flora air dan beberapa

alat musik khas Bali yang sengaja digantung di beberapa sudut jalan.Jalan masuk

perumahan juga tidak terlalu besar. Di sisi kanan jalan ada tembok pembatas dengan

warna abu-abu dan oranye.Di sebelah kiri terdapat semacam sawah dengan konsep

terasering. Bale Bengong yang di Bali biasa dipergunakan untuk tempat berkumpul

warga juga dapat ditemukan.

Nama kluster di kawasan hunian tersebut juga disesuaikan dengan nama daerah di Bali dan di depannya ditambah kata “Banjar”. Beberapa di antaranya,Banjar Amlapura,

Gili Manuk,Tabanan, TamanAyun,dan Bedugul.Setiap banjar terdiri atas paling sedikit 90 unit rumah. Masing-masing Banjar memiliki suasana yang coba disesuaikan dengan tempat sebenarnya.

Misalkan saja Taman Ayun.Di kluster ini,manajemen Wika Realty selaku pengembang

Tamansari Puri Bali membuat flora air. Banjar Bedugul menekankan lingkungan Bali

yang hijau dan asri.

Dia menjelaskan, target pasar kawasan hunian ini adalah masyarakat menengah

atas. Untuk tipe paling kecil yakni 30/72 ditawarkan Rp190 juta per unit, sedangkan

tipe paling luas adalah 150/300 seharga Rp1,6 miliar. Lahan yang dipergunakan untuk membangun kawasan hunian ini seluas 40 hektare.

Untuk menambah ciri khas, Agung menuturkan, pihaknya sengaja menanam satu

pohon kamboja di setiap rumah yang dibangun. Pohon kamboja merupakan salah

satu pohon yang banyak ditemukan di Bali. Keberadaannya diharapkan semakin membuat penghuni seperti tinggal di Bali. Dari segi fisik bangunan,menurut

dia, desain Bali dapat dilihat dari fasad tiang depan yang dibuat tebal berbentuk

trapesium dan dilapisi batu paras.Tiang tersebut dipenuhi berbagai ukiran khas Bali.

”Masuknya arsitektur modern minimalis membuat rumah yang dibangun semakin

mempunyai nilai seni,” katanya.

Tidak seperti perumahan lainnya yang memiliki pusat aktivitas, seperti sport center,

Tamansari Puri Bali justru akan membangun pusat kesenian di mana anak-anak dapat

belajar menari, melukis, atau kegiatan seni lainnya.Saat ini miniatur panggung kesenian sendratari Bali pun sudah dibangun.

Meski tidak secara utuh membangun kawasan hunian dengan arsitektur Bali,Grup Gapura Prima juga membangun kluster hunian dengan arsitektur Bali. Kluster tersebut terletak

di kawasan hunian Bukit Cimanggu City (BCC). Gapura Prima mengklaim BCC merupakan perumahan terbaik, terbesar, dan terlengkap di Bogor Utara.

Menurut Sekretaris Perusahaan Gapura Prima Rosihan Saad, di kluster Bali, kluster

hunian yang dikembangkan pihaknya banyak membangun ornamen-ornamen

khas Bali di rumah yang dibangunnya.”Kami membangun banyak pernak-pernik untuk

menguatkan kesan sebagai rumah dengan arsitektur Bali,”terangnya.

Gapura pintu masuk ke kluster dibuat seperti yang dibuat di Bali. Gapura tersebut terbuat dari bata merah, serta dihiasi berbagai ornamen khas Bali. Ornamen tersebut dibuat seniman yang langsung didatangkan dari Bali.BCC sengaja melakukan itu agar sentuhan

Bali mulai terasa penghuni mulai memasuki kawasan hunian.

Rumah di kluster Bali juga memiliki taman khas Bali. Taman tersebut dihiasi dengan

ornamen-ornamen yang menunjang konsep Bali. Sebut saja lampu-lampu taman yang

beratapkan ijuk dan patung-patung Bali. Keduanya bias menjadi hiasan di taman

bergaya Bali untuk melengkapi desain lanskapnya.

Taman di kluster Bali banyak diisi dengan tanaman bunga tanaman berwarna

hijau. Pohon kamboja yang cantik, bunga cempaka, dan tumbuhan pandan-pandanan.

Penunjuk jalan di kluster tersebut juga mempergunakan dua jenis tulisan, yakni Bali dan latin.Walaupun hanya sekadar tulisan, keberadaannya cukup signifikan untuk membawa penghuni ataupun masyarakat yang berkunjung seperti berada di Bali.”Kami cukup serius membangun kluster Bali,”tuturnya.

Kluster Bali sengaja dibangun BCC untuk memberikan diferensiasi.Walaupun saat ini arsitektur minimalis masih menjadi favorit,masih ada masyarakat yang tidak cocok tinggal di rumah dengan arsitektur seperti itu. Mereka kemudian mencari kawasan hunian yang memiliki arsitektur unik,misalkan saja arsitektur Bali.

Arsitektur Bali dipilih karena universal. Walaupun Indonesia memiliki banyak arsitektur tradisional, arsitektur Bali dianggap lebih diterima masyarakat Indonesia. Pasalnya, arsitektur Bali dianggap memiliki nilai seni tidak lekat dengan zaman. Masyarakat internasional pun mengakuinya.

Rosihan optimistis, kluster Bali yang dikembangkan pihaknya akan mendapatkan

tanggapan positif dari masyarakat. Apalagi, penghuni yang tinggal di kluster Bali

juga bisa menikmati berbagai fasilitas yang terdapat di BCC. Misalkan saja, waterpark

dansport club.

Di kawasan Tangerang juga terdapat sebuah kawasan hunian yang memiliki konsep Bali.Kawasan perumahan itu bernama Bali View. Menurut staf marketing BaliView Syaiful Malik, kawasan hunian yang memiliki luas 34 hektare itu, masih menjual lahan seluas 585meter. ”Permeternya kami hargai Rp1,5 juta,”sebutnya. Seperti kawasan hunian dengan arsitektur Bali lainnya, di Bali View juga mencoba mengadopsi lingkungan Bali. Mulai pintu masuk, bale bengong,hingga berbagai ornament yang Bali yang sengaja dipasangkan di dalam kawasan hunian. Hal lain yang mungkin tidak ada di kawasan hunian lain adalah setiap unit rumah dipasangkan mahkota seperti ciri khas rumah di Bali.

Kawasan hunian yang terletak di Jalan Cirendeu Raya Nomor 46, Tangerang itu, terdiri atas beberapa kluster. Di antaranya kluster Kampong Ubud dan Kintamani. Khusus di kluster Kampung Ubud, pihaknya juga membangun sawah dengan cirri khas Bali, yakni terasiring, sebagai sebuah fasilitas. (Seputar Indonesia)

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 24, 2008 in properti

 

One response to “Rumah Berarsitektur Bali Cukup Diminati

  1. Gina

    Desember 26, 2008 at 13:50 p12

    Dear Pak Hermansyah’

    Memang konsep & suasananya bagus.
    Tapi kalau nantinya akan dibangun UPS (unit pengolahan sampah) di dalam perumahana? dsn letaknya juga persis di depan rumah warga , alias cuman jarak 6 meter..
    .?
    Bagaimana jadinya ya?

    Salam

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: