RSS

View Sungai Tawarkan Kelestarian Lingkungan dan Kenyamanan Penghuni

02 Nov

Negara lain seperti Singapura, sungai tetap dijaga keutuhannya dengan peraturan yang ketat. Bantaran sungai tidak bisa diokupasi oleh orang-orang yang memiliki
kepentingan. Sepanjang bantaran sungai banyak yang dijadikan jalur hijau. Untuk melestarikan keutuhan sungai, dibuatlah pedestrian atau jalan yang bisa diakses semua
orang.
Dalam tata ruang kota di bebeberapa negara maju, sungai dianggap sebagai “halaman depan” sebuah rumah. Dengan konsep semacam itu, setiap pemilik rumah seperti
diwajibkan untuk memperlakukan sungai secara terhormat. Dengan penegakan hukum yang kuat, sungai tidak lagi digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Pendek kata,
sungai bukan merupakan bagian yang harus “disembunyikan” dari sebuah penataan kota.
Karena itulah tidak mengherankan kalau di Singapura sangat jarang terlihat rumah pun yang berdiri membelakangi sungai. Kalau toh mau dikombinasikan, masyarakat Negara
tersebut biasanya membangun rumah dengan dua beranda atau teras, yang satu menghadap ke jalan dan satu lagi ke sungai.
Menurut Pengamat Planologi dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna, setiap daerah memiliki aturan yang berbeda mengenai jarak minimal diperbolehkannya membangun rumah dari bantaran sungai. Ada yang mencapai 100 hingga 200 meter, namun ada juga yang hanya antara 10 meter hingga 15 meter. Semua itu tergantung dari kebutuhan masing-masing daerah.
Pemerintah daerah tentunya memiliki alasan tersendiri dalam menentukan batasan tersebut. Misalkan saja DKI Jakarta. Karena keterbatasan lahan, pemda setempat hanya melarang masyarakat di daerahnya membangun rumah pada radius 15 meter dari daerah aliran sungai (DAS).
Namun begitu, dia mengaku, pengembang yang diberikan izin oleh pemda setempat untuk membangun kawasan perumahan sekitar di bantaran sungai. Pasti akan dikenakan persyaratan tambahan. Misalkan saja harus memperbanyak menanam pepohonan di
sekitar DAS atau memiliki konsep bangunan dengan kepadatan rendah.
Dengan begitu daerah aliran sungai bisa terus terjaga. Masyarakat khususnya penghuni kawasan perumahan yang dekat dengan aliran sungai juga bisa menikmati pemandangan
sungai. Yang terpenting adalah penghuni tidak perlu khawatir kawasan perumahannya akan terkena bencana alam seperti banjir, akibat tidak tertatanya bantaran sungai.
Berkembangnya kawasan perumahan dengan view sungai cenderung meningkat akibat permintaan sebagian masyarakat yang kerap melihat Negara lain. Pasalnya sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah Negara, seperti Singapura telah membangun rumah dengan view Sungai. Bahkan di Australia, khususnya di Nerang River banyak berdiri rumah pribadi maupun rumah yang disewakan untuk tempat penginapan. Letak rumah di Nerang River semua diposisikan menghadap ke sungai.
Rumah dengan view sungai biasanya dipergunakan untuk aktivitas refreshing. Apalagi kalau aliran sungai yang melewati kawasan perumahan relative bersih. Karena itulah
untuk menjaga agar aliran sungai yang melalui kawasan perumahannya tetap bersih sejumlah pengembang menginvestasikan dana dengan jumlah yang relative besar.
Pengembang merasa view sungai bisa meningkatkan penjualan perumahan yang sedang dikembangkan pengembang. Bahkan sejumlah pengembang sengaja membangun sungai atau kanal buatan untuk memberikan nuansa alami di kawasan perumahannya. Dengan begitu, masyarakat menjadi lebih tertarik menempati kawasan perumahan tersebut. ”Tentunya hanya beberapa pengembang besar saja yang mampu melakukan itu,” terangnya.
Menurut pengurus Ikatan Ahli Perencana (IAP) Indonesia Hendricus Andy Simarmata, pengembang nampaknya sengaja membangun kawasan perumahan dengan view sungai. Pengembang menyadari view sungai berpotensi booming pada masa depan. Apalagi kalau pengembang berhasil menjaga keasrian bantaran sungai yang melalui kawasan perumahannya. ”Ini bisa menjadi point penjualan,” katanya.
Dia mengatakan, masyarakat cenderung menyukai kawasan perumahan yang dekat dengan air seperti sungai atau danau. Karena disadari atau tidak, masyarakat masih mempunyai kultur air sebagai salah satu unsur kehidupan. Artinya, masyarakat masih beranggapan lebih baik tinggal di dekat air seperti Sungai.
Sebagian masyarakat beranggapan tinggal di dekat sungai, dapat bermanfaat sebagai tempat istirahat. Karena biasanya pengembang yang membangun rumah dekat dengan bantaran sungai sangat teduh sehingga sangat cocok untuk beristirahat. Pengembang sengaja menanam pohon untuk mempercantik view sungai yang dimiliki kawasan perumahan tersebut.
Pengembang juga membangun ornament sebagai diverensiasi pemandangan penghuni ataupun masyarakat. Situasi dan kondisi seperti itu tentunya akan memperbanyak pilihan view penghuni. ”Pengembang merasa perlu menambah pilihan untuk lebih menarik minat masyarakat,” tuturnya.
Nilai lebih lain yang didapatkan pengembang dengan membangun hunian dengan view sungai adalah akan dicap sebagai pengembang yang memiliki kesadaran lingkungan.
Pasalnya pengembang yang ‘menjual’ sungai harus tetap berupaya menjaga agar ‘jualannya’ tetap laku. Pastinya untuk melakukan itu, pengembang harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit agar DAS sungai terus tertata rapi dan bersih.
Sementara,pengamat properti dari Prolease Property Consultant Suwito Santoso mengatakan, sejak beberapa bulan belakangan ini sejumlah pengembang seperti berlomba-lomba membangun kawasan hunian go to green. Kondisi seperti itu tidak terlepas dari keberhasilan sejumlah pengembang yang telah terlebih dahulu mengembangkan konsep rumah go to green.
Rumah dengan view sungai merupakan salah satu varian membangun kawasan perumahan dengan konsep go to green. Dengan membangun rumah dan menjual sungai sebagai daya tarik untuk membeli unit huniannya, berarti pengembang harus siap juga menjaga kelestarian sungai tersebut
Namun sayangnya, pengembang yang membangun kawasan hunian seperti itu cenderung hanya menjadikan view sungai atau river side sebagai bahasa pemasaran agar unit rumah yang dibangun di dekat sungai cepat terjual. ”Cukup banyak masyarakat yang terhasut membeli kawasan perumahan seperti itu,” terangnya. Pada saat ini, pengembang masih terbatas pada mempercantik bantaran sungainya saja.
Dia menjelaskan kondisi tersebut terjadi karena cukup banyak masyarakat yang cukup fanatik untuk tinggal di daerah yang memiliki pemandangan indah. Karena itulah, walaupun pengembang belum secara total menjaga kelestarian lingkungan sungai yang melintasi kawasan hunian. Asalkan bantaran sungai telah di tata dengan baik dan indah dipandang mata. Sepertinya rumah tersebut akan tetap laku terjual. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 2, 2008 in properti

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: