RSS

Saham Terpuruk, Kemana Mengalihkan Portofolio Investasi?

07 Nov

Krisis keuangan yang berasal dari Amerika Serkat secara cepat menyeret
bursa efek di berbagai belahan dunia, menuju level terburuknya sepanjang
sejarah. Bulan Oktober 2008, bahkan menjadi mimpi buruk bagi investor,
perusahaan sekuritas serta pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pelaku pasar yang selama ini menempatkan portfolio-nya di saham, gigit
jari dan mulai berfikir ulang. Potensi kerugian masih mengancam karena
krisis keuangan terus menjalar dan diperkirakan akan memberikan sentimen
negatif kepada indeks hingga akhir tahun 2008.
Sejak awal tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus mengalami
penurunan. Awal buruk terjadi, saat level support IHSG tembus di bawah
2.000 (tanggal 9 September). Selang dua hari berikutnya kabar kebangrutan
Lehman Brothers membuat pelaku pasar panik (IHSG kembali merosot ke level
1.800). Kepanikan pasar terus berlanjut hingga bulan Oktober.
Bahkan IHSG mencetak sejarah pada hari Rabu tanggal 09 Oktober 2008.
Meski transaksi perdagangan saham, belum genap berjalan dua jam, tetapi
IHSG anjlok 10,38% ke posisi 1.451,669. Al hasil, otoritas Bursa Efek
Indonesia memutuskan menutup perdagangan saham atau melakukan suspensi.
(suspensi berlanjut dua hari berturtut-turut). Namun langkah tersebut,
ternyata tidak mampu meredam kejatuhan indeks, Bahkan di Oktober kelabu,
IHSG tercatat sempat berada dilevel kritis 1.098,21.
Melihat kenyataan ini, maka sudah saatnya investor maupun calon investor
membuka mata. Bagi investor yang terlanjur bermain saham, perlu bertanya
kepada perusahaan sekuritas atau manajer investasinya. Karena sekarang
saatnya merancang ulang portofolio investasi. Sedangkan bagi calon
investor, sebaiknya mencermati kondisi yang terjadi. Artinya prinsip high
risk – high return tetap harus menjadi pedoman saat melakukan investasi
atau-pun mengalihkan portofolio investasi.
“Investor yang punya dana cash dan berani mengambil risiko maka sekarang
adalah saat yang tepat untuk berburu saham karena harganya sangat murah.
Sedangkan investor yang ingin aman dan tidak mau mengambil risiko maka
bisa bermain di reksadana,” papar Vice President Bhakti Capital
Securities Budi Ruseno kepada SINDO.
Budi memaparkan, harga saham sejak awal tahun hingga akhir bulan Oktober
turun sebesar 59%. Menyikapi kondisi ini, maka investor seharusnya
mencermati investasi saham yang telah dipegang-nya. Dengan menahan
portofolio-nya, dan jika investor ingin menambah portfolio investasi maka
sebaiknya mencermati saham-saham dari perusahaan yang memiliki
fundamental bagus dan harga sahamnya sudah jatuh.
Bagi anda calon investor, caranya mudah: lihat dan telitilah laporan
keuangan kuartal III/2008 yang dipaparkan oleh perusahaan publik. Itu
menjadi poin awal bagi investor untuk menilai kualitas perusahaan,
berikutnya amati kinerja perusahaan tersebut.
Jika memang ingin serius menempatkan portfolio investasi di saham maka
investor juga harus mampu membaca potensi kerugian yang mungkin dialami
perusahaan tersebut. Telisiklah perusahaan-perusahaan yang selama ini
bergerak di sektor perkebunan sawit, harga CPO (minyak sawit mentah) sudah
terpangkas 50% menuju level USD500 per metrik ton. Kondisi ini menyebabkan
perusahaan mulai merevisi target dan mengevaluasi kinerja-nya. Hal yang
sama terjadi pada perusahaan yang bergantung dan berhubungan dengan minyak
mentah, pasalnya harga minyak mentah turun tajam hingga menembus level
USD62 per barel.
“Jika memang menganggap saham masih berisiko, investor yang memiliki dana
bisa menempatkanya ke Surat Utang Negara (SUN) dengan imbal hasil atau
yeild antara 13-15%. Bagi investor yang dananya terbatas maka jangan
sampai penambahan portofolio investasi mengganggu dana untuk kebutuhan
pokok, untuk itu perlu disiapkan dana cadangan,” ungkapnya.
Tetapi langkah-langkah tersebut kata Budi Ruseno, perlu dikoordinasikan
dengan manajer investasi ataupun perusahaan sekuritas dari investor
bersangkutan. Budi mencontohkan, bagi investor baru yang ingin bermain
saham, maka bisa mengambil formulir dan membuka account atau rekening di
Bhakti Capital Securities.
“Untuk investor yang dananya terbatas, maka bisa berkonsultasi dengan fund
manager dan mencoba untuk berinvestasi di reksadana terproteksi,”
imbuhnya.
Bhakti Capital Securities sendiri memiliki manajer investasi dibawah
bendera Bhaktie Asset Managemen. Manajer investasi ini menawarkan
kemudahan investasi di portofolio reksadana. Diantaranya investor dapat
menikmati diversifikasi portofolio. Jadi meskipun investor tidak memiliki
dana besar namun dengan melakukan diversifikasi investasi maka akan
memperkecil risiko.
Bhakti Asset Manajemen menyebut reksadana dapat diinvestasikan pada
instrument efek ekuitas (saham), efek pendapatan tetap (Surat Utang Negara
atau obligasi), instrument pasar uang (deposito) hingga reksadana campuran
(balanced fund) . Kemudahan lain yang ditawarkan yaitu kemudahan pelayanan
administrasi dalam pembelian maupun penjualan kembali unit penyertaan. Dan
kemudahan dalam reinvestasi pendapatan sehingga unit penyertaanya
bertambah.
Dihubungi terpisah Presiden Direktur PT Am Capital Indonesia Mustofa
mengatakan bahwa keputusan untuk menempatkan portofolio investasi pada
awalnya harus diputuskan sendiri oleh si investor.
“Jika mereka memilih investasi jangka panjang, maka deposito dan saham
masih bisa menjadi pilihan,” tuturnya.
Namun untuk investasi saham, dia merekomdasikan agar investor berhati-hati
dan melakukan pembelian secara bertahap. Artinya jika memiliki dana cukup,
maka bisa membeli saham yang harganya sudah sangat murah. Dan bisa
menikmati hasilnya dalam jangka dua tahun mendatang.
“Jadi pilihan investasi itu tergantung time horizon-nya. Kalau bisa
keputusan itu untuk jangka panjang,”imbuhnya.
Sementara itu tim dari otoritas Bursa Efek Indonesia, mengingatkan kepada
investor untuk mengetahui karakteristik dan sasaran investasi. Serta
melakukan perhitungan yang matang, jika memilih investasi pada saham,
obligasi atau surat berharga lain. Kalau ingin menempatkan investasi pada
sertifikat berdepodito misalnya, hitungan yang pertama kali dilakukan
adalah apakah bunga deposito yang diperoleh bisa mengamankan nilai uang
dari inflasi.
“Ingatlah bahwa berinvestasi selalu ada risiko, yang bisa dilakukan
pemodal adalah mengelola risiko sekecil mungkin,”. Dalam investasi
saham serta produk lain semisal obligasi, reksadana serta produk
derivative lain juga tidak terlepas dari risiko. Risiko yang utama
adalah kondisi pasar yakni penurunan harga. Agar terhindar dari
risiko ini, maka investor perlu menganalisa kinerja dari industri dari
produk yang menjadi sasaran investasi, misalnya kinerja perusahaan
serta laporan keuangan. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 7, 2008 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: