RSS

Pasar Bergejolak, Cadangkan Dana Wajib di Bank

22 Nov

Di tengah gejolaknya kondisi pasar keuangan saat ini, sebaiknya perlu
dipikirkan untuk mengalihkan investasi dari pasar modal ke pasar uang.
Instrumen apa yang tepat?

KRISIS keuangan global yang menyeret bursa kawasan, termasuk Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ke teritori negatif perlu
diantisipasi oleh para investor. Salah-salah memilih instrumen investasi,
kekayaan investor pun ikut terseret.

“Investor harus melakukan reposisi portofolionya,” kata Direktur Bhakti
Capital Budi Ruseno kepada SINDO di Jakarta kemarin.

Menurut Budi, di saat krisis finansial yang tidak menentu seperti saat ini
sebaiknya pelaku pasar sudah mulai melakukan diversifikasi pada instrumen
investasi. Hal ini dinilainya cukup ampuh untuk mencegah kerugian
berinvestasi di pasar modal dan uang. “Diperlukan sebuah manajemen risiko
yang tepat,” katanya.

Meski demikian jelas Budi, reposisi tersebut sangat tergantung pada
kemampuan masing-masing investor. Bagi investor yang tidak kekeringan
likuiditas (sudah untung), ada baiknya sebagian dana yang diparkir di
pasar modal sudah mulai dialihkan ke pasar uang. Investasikan dalam bentuk
yang mudah dicairkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan, seperti tabungan atau
deposito berjangka. “Saat ini sebaiknya orang memilih dalam bentuk tunai
(cash),” ungkapnya.

Jika ada dana lebih (idle) jelas Budi, investor dapat berinvestasi di
instrumen pasar modal. Berdasarkan tingkat risikonya, instrumen di pasar
modal yang paling aman di tengah kondisi keuangan saat ini (bearish)
menurut Budi adalah dalam bentuk surat utang. Surat utang tersebut bisa
yang diterbitkan pemerintah seperti Obligasi Negara Ritel (ORI) atau Surat
Utang Negara (SUN) maupun yang diterbitkan swasta, seperti obligasi.

Harga obligasi yang murah menjadikan instrumen ini sebagai pilihan
investasi utama untuk satu tahun ke depan. Obligasi dapat dikatakan
pilihan investasi yang low risk, high return. Low risk dimungkinkan karena
penurunan harga obligasi sudah sangat terbatas.

Enggan memilih investasi dalam bentuk surat utang, investor juga dapat
melirik instrumen investasi yang lain, yaitu reksadana pendapatan tetap
(fix income) atau reksadana campuran. Meski sedikit berisiko, namun
instrumen investasi ini dinilainya masih layak menjadi pilihan.

Selanjutnya jelas Budi, jika masih memiliki dana berlebih, investor dapat
berinvestasi saham atau reksadana saham. Investasi di instrumen inipun
untuk mereka yang memiliki horizon investasi jangka panjang. Sebelum
menentukan pilihan saham, sebaiknya pahami dulu kinerja dan
fundamentalnya. Selain itu, pilih yang berkapitalisasi besar dan likuid.

Riset NISP Sekuritas menyatakan, mereka yang memlih investasi di saham
sebaiknya memilih saham-saham perusahaan berbasis konsumen domestik yang
kuat dan valuasi murah seperti PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM),
perbankan yatiu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk
(BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk
(BBCA), konsumer seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan semen PT Semen
Gresik Tbk (SMGR).

Penurunan harga PT Astra International Tbk (ASII) yang dratis membuat
valuasinya sangat menarik dengan PER tahun 2008-2009 sekitar 9 kali. ASII
merupakan induk usaha dari PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT United
Tractor Tbk (UNTR), dengan kinerja konsisten.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
meskipun valuasinya mahal namun tetap menarik. PGAS adalah penyedia sumber
energi bersih dengan potensi pertumbuhan tinggi. UNVR memiliki lini produk
konsumer yang dipakai secara luas oleh masyarakat Indonesia.

Pengamat investasi Goei Siauw Hong mengatakan, diversifikasi posisi
ekuitas dan mata uang (currency) akan menjadi penting. Ekuitas secara umum
telah menjadi murah dengan koreksi yang tajam. Nilai rupiah pun melemah
cukup tajam. “Memiliki lebih dari satu jenis produk investasi akan menjadi
pilihan yang cerdas dalam kondisi seperti ini,” papar Goei.

Berdasarkan survei ING Securities Indonesia, selama kuartal III/2008
investor Indonesia masih memilik investasi dalam bentuk uang tunai (95%)
dan emas (76%).

Sementara untuk periode kuartal IV/2008, hanya sedikit yang ingin
berinvestasi dalam saham lokal. Bagaimana sisanya? Sebanyak 37% investor
Indonesia menyatakan berminat untuk investasi pada uang tunai, 14% di
sektor properti, 29% investasi emas
dan 10% pada dana pensiun.

CEO ING Investment Management Asia/Pasifik Alan Harden menyatakan, semakin
bergejolaknya situasi di Amerika Serikat (AS), Eropa serta penurunan
drastis di beberapa pasar Asia, menyebabkan menurunnya minat investor
lokal. Hal itu ditandai dari bergejolaknya pasar Indonesia dalam dua pekan
terakhir ini sebagai reaksi pasar global.

Memasuki kuartal IV/2008, ING melihat sentimen investor Indonesia akan
terus menurun, seperti negara-negara Asia lainnya. Investor Indonesia akan
lebih memilik berinvestasi pada uang tunai, simpanan dan emas meskipun
adanya potensi peningkatan di pasar saham. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 22, 2008 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: