RSS

Perkembangan Teknologi,Untungkan Bisnis Studio foto digital

11 Des

Pesatnya perkembangan industri telekomunikasi dan elektronik sekarang
menjadi sebuah maagnet untuk mengembangkan usaha baru.

Dunia teknologi terus berkembang di dunia, apalagi untuk produk Hp,
hampir semua produsen seperti Nokia, Samsung, LG, Siemens, dan
lain-lain selalu menggelontorkan produknya setiap tahun.

Tak tangung-tanggung sekarang mulai banyak diproduksi Hp yang dapat
digunakan untuk foto. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan
kualitas foto yang dihasilkan oleh Hp tersebut semakin lama semakin
tajam, sehingga hasil jepretan Hp dapat diabadikan dengan kualitas
yang tidak kalah dibandingkan dengan kamera.Bahkan, Hp sekarang ada
yang memang kualitas foto hingga 2 megapixel. Dengan kemampuan seperti
maka foto tersebut dapat dicetak.

Apalagi budaya sebagaian orang yang senang foto, ke mana mereka pergi
kesuatu tempat baru pasti akan membawa kamera untuk mengabadikan
setiap kegiatan yang dilakukan. Bayangkan berapa banyak penduduk di
Indonesia yang mempunyai kamera dan Hp yang dapat digunakan untuk
memfoto. Bila jeli, melihat situasi ini tentu menjadi sebuah peluang
usaha yang menjanjikan untuk digeluti.

Semakin banyak orang-orang yang ingin mencetak foto, tentu mereka
memerlukan lokasi yang digunakan untuk mencetak. Ini dia peluang yang
dapat dimanfaatkan bagi individu-individu-individu yang pengen
berwirausaha. Maka tidak salah, jika menggeluti usaha studio cetak
foto digital.

Namun, dalam situasi serba tidak menentu sekarang, harus diperhatikan
secara matang untuk dapat sukses menggelutinya. Tentu dalam membuka
sebuah studio foto digital tidak dapat dilakukan asal, melainkan
dengan perhitungan matang, agar tidak tercebur dalam kerugian…

Sebagai salah satu bidang usaha, bisnis studio foto digital memang
merupakan sebuah peluang yang masih layak dikembangkan. Apalagi di
dalam bisnis ini ada anggapan, tidak kenal rugi. Namun, tidak sedikit
dari para pengusahanya yang masih mengelola bisnis itu dengan
asal-asalan tanpa persiapan penuh. Makanya, tidak heran jika studio
foto yang sebelumnya tumbuh subur bak jamur di musim hujan kini jatuh
berguguran. Seperti pasir yang diterjang ombak…

Kebanyakan studio foto yang gagal itu disebabkan si pemilik tidak
mencintai pekerjaannya. Sebuah studio foto yang baik dapat diketahui
antara lain, dari segi pelayanan yang diberikan kepada pelanggan.
Memuaskan atau tidak? Sebab, tidak sedikit studio foto digital yang
masih memilih-milih pekerjaan. Misalnya, tidak melayani cetak foto
dari kamera telepon seluler (ponsel) dengan alasan hasil cetakannya
tidak berkualitas baik. Padahal, mencetak foto dari ponsel, untungnya
cukup besar bagi studio itu.

Hal seperti itu semestinya tidak perlu terjadi. Apalagi, pada era
teknologi digital seperti sekarang ini, persaingan antarstudio foto
sudah sangat ketat. Berbeda ketika pada era kamera analog, yang
kompetitornya saat itu masih sangat sedikit.

Bisnis studio foto digital adalah bisnis yang pasti untung. “Jika
tidak untung itu sudah sangat aneh. Sebab pada era digital seperti
sekarang ini kalau memotret sudah tidak pakai film lagi. Kita cuma
investasi kamera, kartu memori, dan personal computer. Jadi yang
dijual di sini adalah betul-betul jasa. Jasa tenaga dan tidak banyak
mengeluarkan materi.

Menurut Manager Bizz Studio Farozi untuk membuka sebuah bisnis studio
foto digital ddiperlukan modal sekitar Rp200 juta. Jumlah tersebut
untuk menyewa sebuah lokasi plus peralatan cetak. Namun, dengan jumlah
sebesar ini sudah cukup memadai untuk sebuah studio foto yang lengkap.

“Jumlah itu sudah memadai untuk memulai dari awal usaha studio foto
digaital,” ungkapnya.

Namun, kata dia dalam situasi serba ekonomi tidak menentu sekarang,
harus diperhitungkan secara cermat untuk memulai bisnis. Bisnis ini
harus digeluti secara total agar bisa berkembang.

Untuk mencetak foto, seorang pengelola studio foto hanya menyediakan
kertas foto yang jumlahnya tergantung berapa banyak gambar yang akan
dicetak serta untuk membayar gaji karyawan. “Namun, kondisi sekarang
harus dicermati serius pasalnya dampak terhadap harga kertas cetak
pasti ada,” katanya.

Pada zaman dulu, ketika pemotret ingin mengetahui hasil dari suatu
bidikan, harus dicuci seluruh isi film, meskipun hanya beberapa film
saja yang terpakai. Sedangkan pada era digital hal seperti itu
tentunya tidak akan terjadi lagi. Artinya, kita mencetak sesuai dengan
yang kita inginkan saja. Pekerjaan memotret perlu hati-hati agar dapat
menghemat waktu dan biaya. Perkembangan fotografi digital,sangat
merugikan produsen film. Fuji film, sekarang ini produsen itu
untungnya tidak sebesar ketika pada zaman kamera analog. Begitu juga
dengan produsen film lainnya, seperti Kodak dan Konica.

Sebaliknya, yang diuntungkan adalah konsumen. Konsumen tidak harus
mencetak seluruh hasil bidikannya. Konsumen bisa memilah-milah imaji
yang ada di dalam kamera yang bakal dicetaknya, tidak terkecuali yang
akan dicetak itu hanya satu lembar saja, meski ia telah memotret
ratusan kali.

Selain itu, sekarang secara umum, keberadaan kamera digital lebih
menguntungkan konsumen daripada produsen film. Akan tetapi karena
pertumbuhannya begitu hebat, maka peluang ini tetap ada meskipun
menyempit. Jumlahnya semakin banyak.

Sebagai salah satu peluang bisnis, studio foto digital masih memiliki
prospek yang baik pda masa yang akan datang, kecuali teknologinya
telah digantikan dengan yang lebih canggih lagi. Di sisi lain,
populasi kamera digital semakin besar saja.

“Saya tidak bisa menyebutkan angka pastinya, tetapi saya memperkirakan
produsen ponsel Nokia misalnya telah melepas ratusan juta unit ponsel
berkamera ke pasar. Jumlah tersebut jelas telah melebihi jumlah
peredaran kamera yang ada, mulai dari saat ditemukannya kamera hingga
sekarang ini. Itu belum termasuk ponsel berkamera merek lainnya.

Dewasa ini fotografi digital sudah menjadi bagian dari gaya hidup.
Kalau dulu fotografi hanya sebagai satu bagian tersendiri, tetapi
sekarang fotografi sudah menjadi bagian dari gaya hidup, karena sudah
terintegrasi ke dalam ponsel. Ponsel merupakan alat komunikasi yang
tidak bisa dilepaskan dari manusia di abad ini.

Dalam perkembangannya ponsel sudah menjadi produk gaya hidup dan bukan
lagi hanya sekadar kebutuhan semata.

“Kalau disebut kebutuhan, mungkin saya beli ponsel kalau sudah rusak,
tetapi kalau sekarang orang bisa setiap saat ganti ponsel. Setiap
ganti model, ponselnya juga diganti. Minimal setahun sekali,” ujar
pembuat software Noritsu Digital Darkroom ini.

Sebagai produk gaya hidup, ponsel berkamera tergolong produk yang
paling laku dijual di era sekarang ini. Pada saat ini orang boleh
lapar, tetapi orang tidak bisa tidak berkomunikasi dengan ponsel. Di
sana orang tidak bisa tidak memotret. Bukan berlebihan kalau dibilang
fotografi sudah menjadi bagian dari gaya hidup.

Peluang bisnis baru atau diversifikasi bisnis yang sudah ada terbuka
lebar bagi Anda. Industri seluler dan digital yang booming merupakan
satu peluang besar. Ponsel berkamera kini sudah jadi milik setiap
orang. Digital Camera dimiliki hampir setiap keluarga. Di samping
bisnis pulsa yang nilainya triliunan rupiah perbulan, ada bisnis lain
menanti Anda, Kios Cetak Foto Digital! Customer tidak lagi jauh-jauh
dan antri di Lab

Namun, jika anda tertarik untuk membuka studio mini, mungkin jumlah
uang yang dikeluarkan tidak perlu mencapai Rp200 juta. Pasalnya, anda
dapat hanya membeli alat pencetak saja dan menyewa ruangan yang tidak
terlalu besar. Seperti ini…(Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 11, 2008 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: