RSS

Cita Rasa Bisnis Catering

17 Jan

Siapa yang tidak menyukai makanan? Tidak ada, bukan? Namun, masalah terberat adalah menciptakan makanan itu menjadi terasa lezat di lidah anda. Karena semua orang suka makanan, maka bisnis catering pun kian menjadi tren di tengah kesibukan kaum urban, yang lebih memilih membeli makanan siap saji ketimbang harus berkecimpung di dapur untuk mengisi perut.

Gampang-gampang susah berbisnis di dunia catering. Apa pasal? Karena makanan yang anda masak bukan untuk konsumsi pribadi atau keluarga anda, melainkan untuk lidah konsumen dengan selera makanan yang pastinya beraneka ragam.

Yang pertama harus dipersiapkan jika ingin terjun di bisnis boga ini adalah memiliki keahlian memasak. Memiliki sertifikat dari sekolah masak ternama pun menjadi daya pikat bagi konsumen anda. Itu karena, mereka merasa lebih yakin dengan cita rasa masakan anda. Walaupun, bukti sesungguhnya adalah di rasa, bukan di selembar kertas, bukan?

Namun, dengan belajar memasak, maka keahliaan memasak anda akan makin terasah. Ini bisa dipertimbangkan bagi yang ingin memperdalam keahlian masak memasak segala jenis makanan.

“Saya memang sudah suka memasak, tetapi dulu saya juga les memasak supaya lebih mahir lagi dan bisa memasak jenis masakan yang lain,” kata Ninik Muhini pemilik Ninik Catering.

Awal membuka bisnis ini, sebenarnya tidak memerlukan banyak peralatan karena sebagai pemula, tidak ada salahnya menggunakan peralatan seadanya untuk menekan bujet. Ninik mengaku, awal-awal dirinya terjun ke bisnis ini memang dengan memanfaatkan peralatan masak miliknya.

Peralatan yang diperlukan adalah peralatan masak, seperti kompor, panci, pengorengan, dan dandang berukuran besar. Selain itu, untuk peralatan makan, anda bisa menyediakan rantang atau pun boks. Namun, untuk catering berskala besar seperti untuk pesta pernikahan di gedung-gedung besar, peralatan yang dibutuhkan lebih banyak lagi seperti piring, sendok dan garpu, gelas dan wadah makanan dan peralatan tambahan lainnya.

Jika, anda memang menyasar khusus catering pernikahan, peralatan makan ini sebaiknya dibeli daripada menyewa. Atau opsi lainnya, joint dengan wedding organizer. Sebaliknya, jika kecenderungan catering anda lebih banyak melayani skala kecil dan menengah, maka peralatan mewah tidak wajib hukumnya dimiliki.

Ninik Catering sendiri lebih banyak menyasar kalangan perumahan dan perkantoran dengan menyediakan makanan untuk acara hajatan atau makan siang. Harga per porsi dipatok Rp15.000. Seharinya, dia bisa menerima order dari tiga tempat, dengan pesanan masing-masing satu tempat mencapai sekitar 50 boks. Jadi, jika tiga tempat, tinggal dikalikan tiga saja per harinya. Sementara itu, untuk hajatan pernikahan di rumah, dia mematok harga Rp6 juta-Rp30 juta.

“Seminggu sebelumnya harus memberikan uang muka karena modalnya lumayan besar,” katanya. Kendati usahanya sudah berjalan selama dua dekade, dia mengaku, membangun usahanya dengan kepercayaan dari pelangan.

“Tidak mengeluarkan modal, karena mereka memberi uang muka,” ujarnya. Dengan usaha awal yang dibantu tiga orang pelayan, dia tidak banyak mengambil keuntungan. Pemenang ketiga dalam lomba catering se-DKI enam bulan lalu ini mengatakan, untuk pesanan kantoran dan rumahan dia meletakkannya dalam boks ataupun rantang tiga susun.

Tidak jauh berbeda, Norma yang juga berbisnis catering di sela kesibukannya membuka usaha warung makan di kawasan perkantoran Jakarta Pusat mengaku, melanjutkan usaha orangtuanya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). “Hampir tujuh tahun saya bisnis catering dibantu orangtua dan saudara,” ungkapnya.

Kalangan yang disasar adalah skala kecil, seperti kantoran dan hajatan kecil-kecilan. Dengan menu, nasi, ayam, telor, sayuran dan buah, dia menghargai Rp15.000 per boksnya. Bahkan, dia memiliki langganan tetap di beberapa kantor untuk musim tertentu seperti bulan Ramadhan. Selain itu, setiap Jumat, dia mendapat order dari Polda untuk membuatkan 90 nasi boks bagi orang-orang pinggiran.

Diakui wanita asli Betawi ini, modal awal bisnis makanan kiriman tersebut hanya sekitar Rp500 ribu untuk membeli bahan makanan. Keuntungan yang diperolehnya melalui satu orderan kantoran maupun hajatan berkisar antara Rp150 ribu-Rp1,5 juta.

Selain target market kalangan perumahan, kantoran dan hajatan, Dwi Ana Pujiwati pemilik Ana Catering melirik konsumen pabrik. Tiap hari, wanita yang dibantu tujuh orang pekerja ini mengirim 500 boks dengan menu makanan sehari-hari. “Kami mengirim ke tiga tempat dengan menggunakan mobil dan motor,” tuturnya.

Dibanding catering lainnya, Ana Catering memberikan tawaran harga yang jauh lebih murah, yakni hanya Rp9.000 per boks. “Kami hanya ambil untung sekitar Rp1.000-Rp2.000 per boksnya,” ungkap Ani. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2009 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: