RSS

Tabungan Syariah Alternatif Tabungan Konvensional

17 Jan

Pengembangan Tabungan Syariah Butuhkan Sosialisasi dan Kebersamaan Identitas Tidak bisa dipungkiri, sistem perbankan syariah sudah terkenal luas dalam kehidupan masyarakat. Namun, tidak semua masyarakat menggunakan sistem yang dinilai lebih adil dibandingkan sistem konvensional. Contoh yang paling sederhana adalah masih minimnya masyarakat yang memiliki simpanan, terutama tabungan syariah. Statistik perbankan Bank Indonesia (BI) per Juli menunjukkan jumlah rekening DPK per Juli 2008 memang menunjukkan pertumbuhan sebesar 44,6% dari 2.430.940 menjadi 3.515.880 dengan komposisi rekening terdiri dari giro wadiah 47.508, deposito mudharabah 102.925 dan tabungan mudharabah 3.365.440. Jumlah ini dinilai masih lebih rendah dibandingkan pertumbuhan rekining bank konvensional atau hanya 1,68%. Bandingkan, misalnya, dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang memiliki 22 juta atau Bank Mandiri yang kini mengelola sekitar 6 juta rekening. Akibatnya target akselerasi perbankan syariah sebesar 5% pada tahun 2008 masih panggang jauh dari api. Terhadap kondisi tersebut, Deputi Gubernur BI Siti Chalimah Fadjrijah mengatakan ngka 5% tersebut sebenarnya ditargetkan baru akan terealisasi tahun 2011 nanti. Tapi, setelah merilis program akselerasi perbankan syariah akhir tahun lalu, realisasinya dimajukan menjadi tahun depan. Dalam perhitungan BI, program tersebut akan mendorong aset bank syariah melaju kencang. Sebab, dalam program akselerasi itu ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian. Pertama, program sosialisasi perbankan syariah kepada masyarakat secara lebih intensif. Kedua, mendorong pengayaan produk dan jasa keuangan syariah serta perluasan outlet pelayanan. Sedangkan yang ketiga adalah BI akan lebih berperan aktif dalam mendukung masuknya dana investasi luar negeri melaiui instrumen keuangan syariah. Dengan program tersebut, BI optimistis, aset perbankan syariah bisa tembus hingga Rp 80 triliun di tahun 2008. Apalagi, pada saat itu, animo investor Timur Tengah untuk masuk ke industri syariah nasional cukup besar. Tapi apa daya, situasi berubah dengan cepat. Walaupun bank-bank lokal gencar membuka unit usaha syariah, investor dari Timteng yang belum juga muncul. “Itu terjadi lantaran faktor regulasi yang kurang mendukung. Contohnya menyangkut sukuk. Gara-gara aturannya tak segera dibuat, pemerintah pun urung menerbitkan surat berharga tersebut. Selain itu, investor juga mempertanyakan masalah pajak,” ungkap Fadjrijah. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 17, 2009 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: