RSS

2009, Prospek Obligasi Masih Cerah

01 Feb

Pelambatan ekonomi global yang berdampak pada tertekannya ekonomi nasional bukan berarti waktu yang tidak tepat untuk berinvestasi, termasuk obligasi. Bagaimana dengan prospek obligasi di 2009? Semua jenis investasi tentunya sangat tergantung dengan kondisi ekonomi nasional, tak terkecuali instrumen obligasi. Bagaimana asumsi-asumsi makro seperti tingkat inflasi, tingkat suku bunga BI rate dan pertumbuhan ekonomi sangat mempengaruhi imbal hasil (yield) bagi investor. Kepala Ekonom Danareksa Riset Institut Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, meski imbal hasil investasi obligasi pada 2009 akan sedikit menurun dibandingkan saat ini, namun secara keseluruhan prospek investasi di instrumen ini masih cukup menjanjikan. “2009 masih bagus,” katanya. Menurut dia, target inflasi di tahun 2009 yang diperkirakan single digit di kisaran 7 – 8% serta BI rate di kisaran 8,5% akan mengerek harga obligasi ke level yang lebih tinggi sekaligus memberikan penurunan imbal hasil bagi investor. Meski demikian hal itu bukan alasan bagi investor untuk takut berinvestasi. Karena saat ini BI rate masih tinggi, dia menyarankan untuk berinvestasi sebelum 2009. “Waktu yang tepat untuk beli obligasi adalah sekarang,” katanya. Senada diungkapkan pengamat pasar modal Finan Corpindo Edwin Sinaga. Menurut dia, obligasi masih menjadi pilihan utama berinvestasi di 2009. Meskipun pada tahun depan harga obligasi akan semakin naik dan imbal hasil menurun, namun instrumen investasi ini cenderung lebih aman dibandingkan saham. Menurut Edwin, naiknya harga obligasi tak lepas dari proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2009 dan pergerakan BI rate. Pasalnya, kupon bunga yang ditawarkan obligasi akan mengacu pada BI rate. “Kalau BI Rate naik bunga juga naik, tapi kalau BI turun dia juga ikut turun,” katanya. Dia juga sependapat saat ini dan akhir 2008 merupakan saat yang tepat untuk berinvestasi obligasi. “Sekarang boleh belum terlambat,” katanya. Menurut Edwin, investasi di obligasi tidak bisa lepas dari sentimen global. Membaiknya perekonomian global yang terepresentasikan oleh pertumbuhan Amerika Serikat (AS) serta ekonomi Asia seperti China dan Jepang akan mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Dampak lebih lanjut akan mengukur seberapa besar laju infasi dan BI rate. Untuk itu, jelas dia, pada 2009 sebiaknya invetsor menunggu dulu hingga rampungnya kabinet yang dipimpin Presiden AS Barrack Obama. “Kiatharus lihat dulu arah kebijakan Obama karena obligais tak lepas dari sentimen global,” katanya. Hal serupa terjadi pada obligasi yang diterbitkan pemerintah dimana pasar obligasi 2009 diprediksi masih prospektif. Hal itu dipicu menariknya imbal hasil sehingga mendongkrak minat investor serta tingginya kebutuhan pemerintah untuk membayar utang. Dirjen Pengelolaan Utang Negara Depkeu Rahmat Waluyanto optimistis penerbitan surat utang negara (SUN) pada 2009 akan diminati banyak investor. Prospek pasar obligasi tahun depan diperkirakan lebih baik dari tahun ini karena banyak penyesuaian (adjustment) pada 2008. “Saat ini permintaan sangat tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun depan mungkin lebih baik karena instrumen yang diterbitkan lebih beragam. Selain yield lebih bagus, dari sisi market pun lebih bullish (naik),” katanya. Membaiknya pasar obligasi ditunjang variasi instrumen baru, yakni Surat Berharga Negara Syariah (sukuk) dan jenis lainnya. Juga karena total net penerbitan SUN lebih kecil dibandingkan tahun ini.”Apalagi dengan adjustment yang dilakukan pemerintah AS. Kini hasilnya mulai kelihatan dan sudah banyak financial institution yang menghapusbukukan utang,” jelas Rahmat. Risiko Perlu Dipertimbangkan Meski berinvestasi di obligais lebih aman dibandingkan saham, namun sejumlah risiko tetap harus dipertimbangkan. Ada beberapa risiko yang perlu diperhatikan. Pertama, risiko tingkat suku bunga (interest rate risk). Dalam hal ini seperti telah dijelaskan di atas, jika tingkat suku bunga di pasar meningkat maka harga obligasi akan menurun, dan tentunya juga berlaku sebaliknya. Pertimbangkan risiko ini karena akan berpengaruh terhadap potensi keuntungan yang bisa Anda dapatkan.

Risiko kedua adalah risiko gagal bayar (default risk). Dalam hal ini perusahaan penerbit bisa saja mengalami kesulitan keuangan dan mereka tidak menepati janjinya untuk membayar kupon atau bunga obligasi setiap tahun atau pokok dari investasi (nilai pari). Bila hal ini terjadi maka perusahaan penerbit gagal memenuhi janjinya dan Anda sebagai investor dirugikan. Dalam hal ini Anda dapat melihat peringkat dari obligasi dari perusahaan yang menerbitkan. Pemeringkatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan independen yaitu Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Ketiga, risiko pembelian kembali (call risk). Ada beberapa jenis obligai yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call).

Keempat, risiko nilai tukar mata uang (exchange rate risk). Nilai kupon atau arus kas yang Anda terima akan sangat berpengaruh dengan perubahan nilai tukar rupiah. Masih ada beberapa risiko yang berkaitan dengan obligasi seperti risiko likuiditas. Dalam hal ini kesulitan untuk menjual kembali obligai pada harga pasar mungkin saja terjadi. Bila Anda tiba-tiba membutuhkan dana dalam jangka pendek maka tingkat likuiditas atau risiko likuiditas ini dapat menghambat Anda untuk memperoleh dana dalam waktu singkat. (Seputar Indonesia

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2009 in wealth management

 

One response to “2009, Prospek Obligasi Masih Cerah

  1. michigan property manager

    Januari 9, 2014 at 13:50 p01

    You do not have to meet tenants anymore or to be called in the middle of the night because many property management in Vancouver in 2011offers the services of taking charge of your rental needs for you.

    Being a property manager is not something that can be taken lightly and is sometimes considered quite a thankless job; however,
    there are some excellent software programs that can help both the manager and the
    owner to become more efficient. The result of such change often leads to fragmentation of the management services
    being provided with communications flow being impeded.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: