RSS

Beli Saham Untuk Jangka Panjang

01 Feb

Krisis finansial belum menujukkan tanda-tanda pulih, yang terjadi justru dampak negatif yang mulai terasa. Pertumbuhan ekonomi mulai melambat dan permintaan menurun, kondisi ini diprediksi akan terus berlangsung hingga kuartal I/2008. Lantas, seberapa besar pengaruh melambatnya ekonomi terhadap kondisi pasar saham di Indoensia. Sepanjang Oktober hingga awal Desember 2008, bursa saham global lesu, tak terkecuali Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Satu-persatu saham yang selama ini menjadi penopang IHSG berguguran.

Jika dicermati sejak tahun 2006 hingga awal 2008, perdagangan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) tumbuh signifikan. Sepanjang tahun 2006, pertumbuhan dikisaran 53,3% atau terjadi penguatan IHSG dari level 1.162,625 ke level 1.805,523. pada tahun berikutnya atau sepanjang 2007, IHSG tumbuh 52% dari level 1.805,523 ke posisi 2.745,826. Artinya potensi di pasar saham waktu itu sangat besar dan investasi cukup menguntungkan. Pertumbuhan tercatat masih berlangsung di awal 2008, bahkan indeks pernah mencapai level tertinggi di 2.838.126

Namun begitu krisis global menghantam, perlahan bursa efek mulai goyah. Hedge fund atau pengelola dana asing yang selama ini menanamkan sahamnya di Indonesia mulai menarik dana. Keluarnya dana asing ini membuat IHSG kelimpungan. Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Erry Firmasnyah mengaku, krisis mulai terasa sejak perdagangan IHSG di bursa efek turun tajam sampai 10,38% dan menyebabkan perdagangan di suspensi pada 8 Oktober lalu. “Karena penurunan mencapai 10,38%, ya perdagangan di suspensi,” ujarnya.

Penarikan dana oleh hedge fund asing yang terjadi waktu itu, ditengarai menjadi salah satu faktor anjloknya IHSG. Hal ini tidak bisa dibantah. Pasca krisis tahun 1997 total kepemilikan asing di bursa efek sangat dominan, bahkan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany menyebut, kepemilikan asing di Bursa Efek Indonesia waktu itu mencapai 73%. “Kepemilikan asing itu terlalu besar dan dampaknya dirasakan sekarang. Banyaknya investor asing atau hedge fund yang keluar dari bursa membuat IHSG terus turun hingga di level 1.100,” paparnya.

Akibat tekanan jual dan keluarnya dana dari bursa efek, sepanjang Oktober hingga Akhir November 2008, IHSG turun 57,59%. Penurunan ini tercatat sebagai yang terbesar ketiga di dunia. Penurunan terbesar pertama diduduki Indeks Shanghai yaitu turun 64,1%, diikuti Indeks Shenzen yang turun 63,26% dan IHSG turun 57,59%.

Terkait gejolak pasar saham yang masih terjadi, banyak analis memiliki pandangan berbeda. Analis CIMB Goei Siaw Hong menyebut, krisis masih akan melanda Indonesia dan dampaknya akan terasa bagi bursa efek hingga 2009 mendatang. “Jika semua hedge fund asing menarik dana, level IHSG akan berada di kisaran 700 dengan transaksi harian sebesar Rp400 miliar per hari,” ungkapnya. Untuk itu, Goei Siaw Hong menyarankan kepada investor untuk mencermati perkembangan harga saham, pasalnya level yang terbentuk pada saat ini masih berpeluang untuk terkoreksi. Meski meminta investor untuk menunggu di level tersebut, tetapi Goei mempersilahkan investor untuk mengkoleksi saham-saham yang harganya sudah di level terendah Rp50 per lembar saham. Tetapi yang lebih penting, kata dia momentum yang tepat bagi investor untuk melakukan aksi buy adalah saat harga sahamnya jauh dibawah harga fundamentalnya. “Investor bisa membeli saham-saham yang sudah mentok di Rp50 per lembar saham. Memang kenaikan atau returnya cukup lama, bisa sampai satu tahun. Itu-pun bergantung kondisi krisis,” paparnya kepada SINDO baru-baru ini.

Goei menyebut, aksi penarikan dana atau redemption yang dilakukan hedge fund asing masih berpotensi terjadi. Di bursa Eropa, hedge fund baru menarik 20% dananya, hal serupa terjadi di bursa Amerika Serikat. Jika bulan lalu, penarikan dana masih 15%, hingga Desember angkanya diperkirakan sudah mencapai 20-25%. Sedangkan di Indonesia, belum semua hedge fund menarik dana sehingga IHSG masih berada di atas 1.100. Selama belum ada kepastian tentang strategi penyelamatan krisis global Goei memprediksi aksi penarikan dana dari pasar bursa akan terus terjadi. Lebih lanjut dia menyebut, koreksi yang dialami IHSG masih relatif kecil.

Di sisi lain Kepala Riset Danareksa Purbaya Yudhi Sadewa merekomendasikan investor untuk mengkoleksi saham-saham blue chip non minyak untuk dikoleksi dalam jangka panjang atau longterm “Ini saatnya berburu saham, mumpung lagi murah. Rasanya pemerintah dunia sudah menemukan cara jitu untuk mengembalikan sentiment positif investor, kenaikan yang mulai terjadi pada harga saham akan berkelanjutan,” imbuhnya.

Sementara itu tim Bursa Efek Indonesia (BEI) menyarankan saat pasar saham turun, tidak ditindaklanjuti dengan keluar dari pasar. Sebaliknya mereka harus terus memantau kinerja pasar, terutama saham-saham yang menjadi incaran. Artinya bagi investor bisa membeli saham incaran tersbut pada harga murah, lalu menyimpanya. Strategi investasi ini disebut strategi buy and hold atau beli dan simpan. Fluktuasi pasar saham yang terjadi saat ini sifatnya sesaat dan lebih tepat lagi karena aspek psikologis dari pasar. Risiko pasar adalah sebuah risiko yang sama sekali tidak bisa dijelaskan secara ekonomi. Misalnya pertumbuhan ekonomi bagus, inflasi terkendali, tingkat suku bunga stabil, tapi boleh jadi, pada suatu kondisi pasar justru bergerak negatif lantaran ekspektasi investor tidak sama dengan ekspektasi pasar.

Dalam konteks perdagangan saham, ketika pasar turun boleh jadi ekspektasi sebagian investor justru naik. Perbedaan ekspektasi ini selalu terjadi, karena investasi saham adalah investasi pada prospek, sedangkan penciptaaan harga saham yang dibuat pasar adalah harga yang terjadi pada saat selama pasar berlangsung sehingga ekspektasi investor dengan ekspektasi pasar pada hari itu akan berbeda. Penyebabnya bisa apa saja. Penyebab yang paling sederhana adalah mungkin karena supply dan demand yang tidak seimbang. Ketika supply saham berlebih, sementara demand tetap maka dengan sendirinya harga saham akan turun. Intinya risiko pasar sering terjadi di pasar modal karena kondisi yang tidak bisa dijelaskan secara ekonomi. Faktor regional dan global juga bisa berpengaruh terhadap kondisi harga saham di lantai bursa secara mendunia. Kapan itu terjadi? Adalah saat ini. Saat dimana investor asing banyak melakukan penjualan atas investasinya di BEI karena alasan kebutuhan likuiditas di negara seperti yang terjadi saat ini. Kita tahu investasi saham adalah investasi jangka panjang (long term) dengan horizon di atas lima tahun. Dengan membentuk horizon waktu yang demikian panjang itu menjadikan investor bisa mengoptimalkan hasil investasinya. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2009 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: