RSS

Properti 2009 tergantung Stimulus Pemerintah

01 Feb

Seperti negara-negara lainnya, Indonesia juga merasakan dampak dari krisis ekonomi. Kondisi tersebut ternyata membuat sebagian kalangan khawatir kondisi tersebut akan membawa Negara ke krisis moneter seperti yang terjadi pada 1997. Hal itulah yang membuat perbankan cenderung bersikap hati-hati dalam mengucurkan kreditnya.
Sikap tersebut bias dilihat dari tingkat suku bunga yang saat ini masih berkisar 15% dan persyaratan uang minimal 30%. Padahal sebelumnya hanya berkisar antara 10% hingga 20% saja. Hal itu dilakukan perbankan dengan alas an mempertahankan likuiditas perbankan. Padahal kondisi tersebut cenderung menambah kemersotonan pasar property dalam negeri
Menurut Ketua DPD REI DKI Jakarta Setyo Maharso, akibat lebih jauh dari kondisi tersebut memunculkan ketidakpastian di sector bisnis property. Karena terbatasnya ketersediaan KPR dan kredit modal kerja pengembang. Maka, tidak sedikit pengembang yang mengambil posisi wait and see. ”Sambil menunggu kondisi ekonomi membaik,” terangnya dalam evaluasi akhir tahun DPD REI DKI Jakarta, DPD REI Jawa Barat dan DPD REI Banten, Kamis (18/24).
Padahal sector property sering diibaratkan sebagai lokomotif yang menggerakkan perekonomian Negara. Dalam lima tahun terakhir bisa disaksikan pertumbuhan sector property begitu pesat. Apalagi sejak pemerintah mencanangkan pembangunan seribu tower. Diperkirakan pertumbuhan sector properti rata-rata mencapai 20%/tahun.
Untuk itu, pemerintah, perbankan dan pengembang perlu duduk bersama mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi. Menjaga kepercayaan masyarakat kepada perbankan dan sector property. Kalau tidak, proyek-proyek yang sedang berjalan akan sulit dilanjutkan. Bukan mustahil konsumen yang telah membeli properti menjadi terkatung-katung.
Ketua DPD REI Banten Mary Octo Sihombing, mengatakan, walaupun kondisi perekonomian dunia pada 2008 ini relative belum baik. Namun, dia berkeyakinan pada 2009 mendatang sector property akan terus membaik. Kondisi tersebut disebabkan stimulus yang diyakini akan banyak dikeluarkan pemerintah. Beberapa diantaranya adalah kemungkinan menurunnya tingkat suku bunga dan rencana penambahan alokasi dana APBN bagi subsidi perumahan sebesar Rp2,5 triliun.
Sebagian besar bahan bangunan yang dipergunakan pengembang berasal dari dalam negeri. Sehingga, fluktuasi harga akibat nilai tukar rupiah juga tidak terlalu dirasakan pengembang. ”Pasar kita relative masih luas. Jadi kemungkinan untuk terus menjual property masih sangat terbuka,” terangnya.
Hanya saja, dia berharap agar pihak-pihak terkait dapat meningkatkan kualitas infrastruktur di sekitar proyek property, khususnya air dan listrik. Sampai sekarang kedua hal tersebut masih dikeluhkan anggotanya. Sebab ketidaktersediaan air dan listrik cukup mempengaruhi penjualan property yang dilakukan pengembang.
Sementara Ketua DPD REI Jawa Barat Hari Raharta mengatakan, 50% dari seluruh pelaksaan proyek property di Indonesia terletak di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Kalau banyak aktivitas proyek yang dihentikan, tentunya akan meningkatkan jumlah pengangguran. Karena itu, otoritas moneter harus segera membuat kebijakan yang berimbas pada penurunan bunga KPR.
Dia menjelaskan, setiap kenaikan suku bunga KPR sebesar 1% akan kehilangan pangsa pasar untuk masyarakat kalangan menengah bawah sekitar 3% hingga 4%. Kondisi tersebut disebabkan daya beli yang tertekan sebagai akibat tingginya suku bunga KPR yang ditetapkan perbankan.
Permasalahan klasik yang masih terjadi dalam bisnis property di Jawa Barat adalah, proses perizinan yang panjang dan mahal. Serta pelaksanaan di lapangan yang masih berbeda atau tidak sejalan mulus untuk keputusan-keputusan pemerintah. Misalkan saja PPh final, PPn dan biaya proses kepemilikan tanah.
Sementara (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 1, 2009 in properti

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: