RSS

Lebih Cermat Berinvestasi di BEI

11 Mar

Hampir seluruh pejabat kunci otoritas pasar modal berkumpul di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/12) siang di 2008. Mereka menghadiri seremoni penutupan perdagangan saham terakhir di 2008.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati datang sekitar pukul 15.30 dan langsung menuju podium di ruang perdagangan saham bersama Direktur Utama BEI Erry Firmansyah, Kepala Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Fuad Rahmany, serta sejumlah pejabat lain.
Alunan musik angklung mengiringi gerak perdagangan saham hingga tepat pukul 16.00. Keriuhan kemudian menggema ketika jam menunjukkan pukul 16.00. Perjalanan saham yang penuh cemas sepanjang 2008 berakhir hari itu.
Teriakan dan tepuk tangan menyemarakkan ruang yang dipenuhi komputer para pialang. Namun ada satu yang tak nampak saat perayaan kali ini. Terompet. Tidak terdengar riuh suara terompet seperti saat indeks harga saham gabungan (IHSG) melesat fantastik hingga 52% sepanjang periode 2007.
Sri Mulyani mengatakan, pemerintah memang sengaja tidak menyiapkan terompet pada penutupan perdagangan 2008. “Ini bukan pesta,” jelas dia dalam sambutannnya saat penutupan bursa.
Pernyataan itu tentu beralasan karena IHSG tergerus hampir 50% sepanjang 2008 akibat kejatuhan bursa global seiring terpuruknya perekonomian Amerika Serikat (AS). Saham jenis apapun tumbang ditiup badai krisis ekonomi global yang memicu para investor asing keluar dari pasar-pasar negara berkembang.
Menurut Kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany, kejatuhan bursa global sebenarnya sudah tampak pada pertengahan 2007 yang bermula dari kredit macet sektor properti di AS. Namun, di awal 2008 bursa global sempat berbalik menguat (rebound) yang diikuti oleh IHSG dan bursa Asia lain.
Tetapi kondisi ini tidak bertahan lama karena lembaga-lembaga keuangan dunia yang terlibat di pasar modal membukukan kerugian akibat meluasnya dampak kredit macet sektor properti tadi. Indeks Dow Jones di AS sebagai pusat permasalahan terkoreksi 36% sepanjang 2008 sementara Singapura 50% dan Hongkong 48%.
Analis BNI Securities M Alfatih mengatakan, para pelaku pasar harus semakin selektif mengoleksi aneka saham di tahun penuh tantangan ini. Sektor-sektor saham potensial, menurutnya, bisa dilihat dari sisi prospek pasar yang sudah teruji dan aktivitas usahanya tidak tergantung pada ekspor.
Dia merekomendasikan saham-saham perbankan yang akan mendapat suntikan sentimen positif dari tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) seiring angka inflasi bulan-bulan mendatang yang diprediksi lebih rendah dibandingkan tahun kemarin.
Pilihan lainnya adalah sektor infrastruktur. “Sektor ini diharapkan menjadi gerbong pertumbuhan ekonomi tahun depan,” katanya.
2009 ini bisa jadi memang tahunnya infrastruktur karena pemerintah berkomitmen menggenjot proyek-proyek infrastruktur untuk menekan angka pengangguran dengan menciptakan banyak lapangan kerja.
Diluar itu, sektor energi juga cukup menarik. Lain dengan sektor komoditas, yakni pertambangan dan perkebunan yang masih perlu dicermati karena aktivitasnya banyak dipengaruhi permintaan ekspor. “Memang ada potensi penguatan tetapi dengan penurunan ekonomi dunia, tingkat permintaan (barang komoditas) juga turun,” ujar dia.
Selain dari sisi sektoral, Alfatih juga menyarankan para pelaku pasar untuk lebih memilih saham-saham unggulan berkapitalisasi besar atau blue chips. Saham jenis ini diyakini lebih bertahan di tengah krisis ekonomi ketimbang second liner atau lapis kedua dan third liner (lapis ketiga).
Kalau ada perbaikan pada sisi ekonomi, lanjutnya, saham blue chips akan paling pertama diserbu oleh investor. Saat memilih saham blue chips, pelaku pasar perlu berkonsentrasi pada kondisi fundamental perusahaan.
Sebaiknya pembelian saham juga dilakukan secara bertahap. “Dana 100% yang disiapkan sebaiknya dibelanjakan 10% dulu. Jangan seluruhnya,” kata dia. Sebab, lanjutnya, fluktuatif bursa domestik tahun ini kemungkinan masih tinggi.
Alfatih memperkirakan pertumbuhan IHSG tahun ini tertahan di kisaran 10%. Adapun pendapatan usaha emiten kemungkinan hanya tumbuh 20-25% seiring perekonomian dunia yang tidak kondusif.
Di tahun-tahun lalu biasanya pendapatan usaha emiten tumbuh 50-60%. Meski demikian, Alfatih menilai pasar modal nasional masih cukup menarik lantaran pemerintah optimistis perekonomian domestik mampu tumbuh di kisaran 4,5-5%, di saat dunia memproyeksikan pertumbuhan minus sepanjang tahun ini. “Saya perkirakan indeks akan melaju di kisaran level 1.500-1.800,” ujarnya.
Sementara untuk jangka pendek dan menengah, dia memperkirakan IHSG akan rebound dengan batas bawah sekitar level 1.300-1.330 dan batas atas antara 1.380-1.430.
Direktur Utama BEI Erry Firmansyah juga memprediksi pertumbuhan IHSG tahun ini antara 10-15% seiring laju pendapatan emiten. Adapun untuk transaksi harian, BEI menargetkan senilai Rp2,75 triliun. “Transaksi pasti ada pengetatan,” kata dia. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2009 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: