RSS

Saham Perbankan dan Multifinance Teliti Sebelum Membeli

11 Mar

Tren pemangkasan suku bunga dunia bakal menular ke Indonesia. Bank Indonesia (BI) sudah memberi kado akhir tahun dengan menurunkan bunga acuan BI Rate dari 9,5% menjadi 9,25% dan sejumlah pengamat memprediksi kado dari BI bakal berlanjut di 2009. Kebijakan ini menjadi angin segar bagi para emiten sektor keuangan sehingga memberi ruang untuk tumbuh di tengah minimnya sentimen positif di 2009. Sedangkan bagi para investor memiliki kesempatan untuk mengkoleksi saham di sektor keuangan baik perbankan maupun perusahaan pembiayaan (multifinance).

Untuk menjinakkan krisis keuangan global, bank sentral di seluruh dunia seakan kompak memangkas suku bunganya. The Federal Reserves atau The Fed sepanjang 2008 telah menggunting suku bunga sebesar 4% dari 4,25% menjadi 0,25%. Hal yang sama dilakukan oleh European Central Bank (ECB) yang memangkas suku bunga acuannya sebesar 2,75% dari 5,25% menjadi 2,5%. Bahkan, Jepang yang terkenal dengan suku bunga terendah, juga melakukannya. Pada 19 Desember lalu Bank Of Jepang (BoJ) memangkas suku bunga menjadi 0,1%.

Melihat tren tersebut, para analis memprediksi, BI akan menggunting BI Rate selama 2009 menjadi 8-8%. Sedangkan pemerintah dalam asumsi makro Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2009 menetapkan target inflasi 6,2% dengan tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tenor di atas tiga bulan bertengger di 7,5%.

Bagi emiten perbankan, penurunan BI Rate dan bunga SBI menjadi kabar baik karena bunga simpanan nasabah akan turun. Begitujuga dengan bunga kredit sehingga penyaluran kredit menjadi lebih lancar. Namun, suramnya wajah perekonomian 2009 bakal membuat bank hati-hati menyalurkan kreditnya dan bank harus menempatkan pencadangan lebih besar mengantisipasi lonjakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL).

Kepala Riset UBS Securities Joshua Tanja dalam risetnya 11 Desember lalu menyebutkan ada potensi munculnya 3% NPL di 2009. Ancaman ini muncul dari kredit valas perbankan yang semakin pelik di saat rupiah terus terdepresiasi terhadap dolar AS. Hasilnya, bank harus menaikkan pencadangannya untuk mengantisipasi membengkaknya NPL. Selain itu, ketatnya likuiditas perbankan akan menahan ekspansi kredit sebesar 3% dari 10-15% pada kuartal III/2008. Atas dasar itu, investor harus melihat fundamental kinerja perbankan yang kuat sebelum menggenggam sahamnya.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Fundamental BCA terbilang kuat. Pada kuartal III/2008, BCA membukukan pendapatan bunga bersih Rp8,55 triliun dan laba bersih Rp4 triliun.

Analisis Madani Securities Ibnu Anjar Widodo mengatakan tahun 2009, BCA mampu mempertahankan porsi dana pihak ketiga (DPK) yang saat ini mencapai Rp192,9 triliun dan menjaga rasio penyaluran kredit (loan to deposit ratio/LDR) sebesar 50%. Selain itu masih bisa mengandalkan pendapatan berbasis komisis (fee based income) dari biaya transaksi perbankan.

Sementara Joshua Tanja menilai BCA sebagai salah satu bank besar mampu mengantisipasi lonjakan NPL. Buktinya provisi BCA di kuartal III/2008 naik menjadi 351,6% dari 280,4% pada kuartal II/2008. Namun, tren penurunan suku bunga bisa menciutkan pendapatan perseroan dari surat utang negara (SUN) karena BCA tergolong bank yang banyak mendekap SUN yang berbunga mengambang (variable rate).

“Meski kinerja masih tumbuh, namun BCA mendapat sentimen negatif sehingga merekomendasikan jual karena valuasinya sudah terlalu mahal,” jelasnya.

Dia menghitung nilai buku atau price to book value (PBV) BBCA sudah 2,9 kali. Sedangkan UBS menargetkan harga BBCA hanya Rp2.050 dan per 23 Desember 2008, BBCA ditutup Rp3.200 per saham.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)
Sebagai bank dengan aset terbesar di Indonesia, saham BMRI masih menarik. Bahkan Analis Reliance Securities Gina Novrina Nasution memuji bank plat merah itu karena memiliki fundamental yang kuat.

Hingga kuartal III/2008, pendapatan bunga bersih perseroan mencapai Rp17,39 triliun atau naik tipis 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp16,84%. Sedangkan untuk NPL tergolong kecil dan NPL kotor tercatat 4,4% dan NPL bersih 0,38%.

Analis BNI Securities Asti Dwiyandani Pohan mengatakan NPL Mandiri terus turun karena semakin berhati-hati dalam menyalurkan kredir. Selain itu dengan ekspansi usaha di bisnis pembiayaan karena berhasil mengakuisisi Tunas Finance bakal mendongkrak pendapatan sehingga merekomendasikan beli saham BMRI dengan target harga Rp2000 per saham.

Pendapat berbeda diungkapkan oleh Joshua yang mengatakan BMRI memiliki kredit valas dalam dolar AS mencapai 25% dari baki kreditnya. Di tengah gejolak kurs, risiko NPL semakin meningkat dan menyarankan jual karena menurut perhitungannya, harga wajar saham BMRI hanya Rp1300 per sahamnya.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
Kinerja emiten saham yang dikomandoi oleh Sofyan Basir cukup kuat. Per September 2008, pendapatan bunga bersih naik 18,58% menjadi Rp14,7 triliun dari Rp12,39 triliun pada periode yang sama 2007. Laba bersihnya tumbuh 7,13% menjadi Rp4,24 triliun dari Rp3,6 triliun pada kuartal III/2008.

“Fokus kredit di sektor UMKM membuat prospek BRI masih cerah. Biasanya UMKM disiplin dalam membayar pinjaman dan risiko gagal bayar sangat kecil,” jelas Gina.

Sependapat dengan Gina, Dimas menilai langkah BRI menggenjot UMKM merupakan penggerak pertumbuhannya sehingga tetap kompetitif di tengah persaingan antar bank dalam menyalurkan kredit ke pedesaan. Hal tersebut menjadi kekuatan BRI menghadapi krisis keuangan global ditambah pengucuran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp12 triliun lewat BRI.

Kendati demikian, Dimas menjelaskan akibat ekspansi kantor cabang ke daerah yang berjalan secara online bakal menambah beban operasional dan pencadangan BRI semakin meningkat karena eksposurenya tersangkut di Bank Indover sekitar USD60 juta. Akibatnya, pencadangan BRI naik 20,71% dari Rp1,92 triliun per Juni 2008 menjadi Rp2,32 triliun per September 2009.

Dimas memprediksi pendapatan bunga bersih BRI hingga akhir tahun 2008 mencapai Rp20,27 triliun dengan laba bersihnya Rp6,3 triliun. Namun, tetap menyarankan membeli saham BBRI dengan target harga saham dalam 12 bulan ke depan sebesar Rp5.675 per saham.

Kalau nasib saham emiten perbankan tahun 2009 masih bisa diharapkan, emiten multifinance dan asuransi tidak seberuntung itu. Bahkan, para analis membei lampu kuning agar investor menjauh dulu dari saham tersebut

Kepala Riset Paramitra Alfa Securities Pardomuan Sihombing mengatakan ada sejumlah emiten multifinance dan asuransi yang kinerjanya cukup baik namun sahamnya belum likuid. Misalnya PT Adira Dinamika Multifinance Tbk (ADMF) yang hanya sekali berpindah tangan dengan 2.500 saham senilai Rp3,45 juta.

“Multifinance adalah saham-saham second liner. Dari dulu belum ada yang likuid,” jelasnya.

Pardomoan juga menilai kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan pembiayaan masih terlalu kecil jika dibandingkan saham perusahaan lain, seperti infrastruktur. Begitujuga dengan saham perusahaan asuransi yang ikut tergerus ketika bursa saham anjlok.

Kepala Riset Recapital Securities Poltak Hotradero berpendapat asuransi termasuk sektor yang harus tiarap dulu di saat krisis. Penurunan ekonomi membuat masyarakat memfokuskan prioritasnya kepada kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan kesehatan. Sedangkan untuk kebutuhan asuransi belum menjadi kebutuhan pokok masyarakat atau berbeda di luar negeri.

“Jika kesadaran masyarakat akan berasuransi semakin tinggi, industri asuransi bakal bernafas lega. Namun, untuk jangka panjang, emiten asuransi bakal lebih baik,” pungkasnya. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2009 in wealth management

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: