RSS

Tidak Spesifik Bidik Orang Tua Mahasiswa

11 Mar

Apartemen dapat menjadi solusi hunian yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa yang mengharapkan kondisi tempat tinggal yang nyaman dan aman. Didalamnya terdapat pengawasan, fasilitas cukup, memiliki privasi belajar bagi mahasiswa, kehidupan yang berorientasi pada suasana kekeluargaan dan interaksi sosial yang lebih luas.
Fungsi apartemen selain sebagai tempat tinggal juga sebagai tempat belajar dan interaksi sosial, baik itu sesama penghuni apartemen, pengelola, maupun terhadap masyarakat setempat yang dapat berpengaruh terhadap kematangan pribadi mahasiswa dan berdampak pada sikap mahasiswa dalam menghadapi masing-masing individu mahasiswa yang umumnya datang dari luar daerah yang berbeda latar belakang. Proses sosialisasi dalam wujud interaksi sosial menghasilkan suatu perilaku yang dapat memberi pengaruh, mengubah dan memperbaiki perilaku mahasiswa.
Desain apartemen diharapkan bisa menjadikan para penghuninya tidak hidup individualistis. Pembagian ruang-ruang yang hanya mengutamakan efisiensi tanpa memperhatikan ruang-ruang sosial akan menambah turunnya rasa sosial antar penghuni apartemen. Karena itu sangat diperlukan adanya interaksi antar penghuni dengan menyediakan area sosialisasi sehingga penghuni mempunyai kesempatan untuk saling mengenal. Fungsi apartemen sebagai tempat interaksi sosial dapat diwujudkan dengan menyediakan fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan sebagai sarana berkumpul dan berbincang antar penghuni. Fasilitas yang menggunakan unsur alam seperti unsur air dan pohon akan mendekatkan hubungan antar manusia sehingga dapat tercipta interaksi antar manusia dalam suatu lingkungan apartemen.
Namun begitu, belum ada pengembang yang secara khusus membidik orang tua mahasiswa sebagai pasar dari apartemen yang dibangun. Menurut Ketua DPP Real Estat Indonesia (REI) DKI Jakarta Setyo Maharso, kalaupun ada sejumlah pengembang yang membangun apartemen di dekat kampus, namun tidak secara khusus membidik pangsa pasar orang tua yang memiliki anak mahasiswa.
Menurutnya, hal itu merupakan salah satu kejelian dari pengembang dalam melihat pasar. Apalagi tariff kost-kostan tidak berbeda jauh dengan membeli apartemen menengah. Sementara fasilitas yang tersedia pada apartemen relative lebih baik. Misalkan saja, memiliki kamar tidur lebih banyak.
Disisi lain, orang tua mahasiswa biasanya juga lebih suka agar anak-anaknya tinggal di tempat yang baik. Agar aktivitas belajar anak-anaknya selama kuliah tidak terhambat. Karena itulah, tidak jarang sejumlah unit apartemen yang dibangun pengembang dibeli orang tua mahasiswa. ”Pada awalnya memang hanya diperuntukkan untuk anak-anaknya. Tapi dimasa depan bukan tidak mungkin unit apartemen tersebut akan dijual kembali atau disewakan,” terangnya saat dihubungi SINDO.
Di Jakarta dan sekitarnya, setidaknya ada beberapa titik yang berpotensi di bangun apartemen menengah dan memiliki pangsa pasar orang tua mahasiswa, diantaranya adalah Depok, Tanjung Duren dan Salemba. Ke tiga tempat tersebut relative dekat dengan beberapa kampus yang orang tuanya biasanya berasal dari kelas menengah atas.
Biasanya unit apartemen yang disewa ataupun dibeli orang tua mahasiswa memiliki satu hingga dua kamar. Sedangkan harga tanah permeternya berkisar antara Rp6 juta hingga Rp8 juta. Hal itu sesuai dengan kebutuhan mahasiswa serta “bersahabat” dengan saku mahasiswa.
Dalam memilih apartemen, mahasiswa tidak terlalu memperhatikan seperti apa desain apartemen ataupun fasilitas yang disediakan. Menurut Member Era Commerce Lukas Bong, mengatakan, mahasiswa terlebih dahulu memperhatikan apakah jarak apartemen yang dibeli atau disewa sangat dekat dengan lokasi kampus.
Semakin dekat dengan kampus, tentu akan semakin baik. Apalagi kalau dari kampus menuju apartemen bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pastilah akan banyak mahasiswa yang meminta kepada orang tuanya untuk membeli atau menyewakan unit apartemen tersebut. Sebab mahasiswa bisa lebih nyaman dalam menjalankan aktivitas belajar ataupun berorganisasi.
Setelah itu, barulah mahasiswa memperhatikan apakah harga yang ditawarkan pengembang sudah cocok dengan kemampuan orang tuanya atau tidak. Ini penting karena walaupun akan ditempati mahasiswa, namun dana untuk membayar berasal dari orang tua. ”Mahasiswa kan belum punya uang sendiri,” tuturnya.
Pengembang yang jeli, tentu akan melihat orang tua mahasiswa sebagai pasar potensial untuk menjual apartemen menengah. Apalagi ada kecenderungan jumlah mahasiswa yang kuliah di sebuah Perguruan Tinggi (PT) cenderung meningkat. Sehingga pangsa pasarnya tidak pernah sepi.
Apartemen Margonda Residence yang dibangun di Depok dan beberapa apartemen menengah yang dibangun di daerah Tanjung Duren juga mendapatkan tanggapan positif dari masyarakat. Hanya dalam hitungan bulan, apartemen – apartemen kelas menengah di dua tempat tersebut habis terjual.
Pasalnya bukan hanya orang tua mahasiswa saja yang membeli apartemen tersebut. Masyarakat yang tidak mempunyai anak dan kuliah di dekat apartemen tersebut juga banyak yang berminat. Tujuannya adalah untuk investasi, baik disewakan ataupun dijual kembali. Harga jual kembali apartemen yang dekat dengan kampus relative tinggi karena banyaknya permintaan.
Sementara Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP REI, Pingki Elka Pangestu, menjelaskan, sejumlah pengembang telah membangun apartemen di dekat kampus. Beberapa contoh diantaranya adalah apartemen yang dibangun di Tanjung Duren yang dekat dengan Uninvestias Tarumanegara dan Universitas Trisakti. Di Bandung juga ada di daerah Setiabudi yang dekat dengan Universitas Parahyangan Bandung.
Selain itu, ada juga apartemen sederhana yang memang dikhususkan sebagai tempat kos mahasiswa. Apartemen sederhana tersebut sudah memiliki pengelola atau induk semangnya. Apartemen seperti itu biasanya dibangun pemerintah dan kemudian pengelolaannya diserahkan kepada perguruan tinggi. ”Kalau pengembag yang bikin langsung sepertinya susah. Paling-paling yang mirip adalah untuk pekerja industri seperti di Batam yang langsung ada kerjasama antara pengembang dengan pabrik,” tuturnya.
Generasi muda Indonesia, khususnya mahasiswa perlu dibiasakan hidup di hunian vertical sejak duduk di bangku kuliah. Salah satu tujuannya agar ke depan dapat dengan mudah beradaptasi di lingkungan hunian vertical karena di masa yang akan datang akan tumbuh hunian-hunian vertical. Mengingat lahan untuk landed house akan semakin berkurang. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 11, 2009 in properti

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: