RSS

Sitem Pembiayaan Syariah Gunakan Konsep Mudharabah

28 Apr

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar perpotensi untuk mengembangkan dan mengeksplorasi ekonomi syariah agar dapat menjadi yang terdepan. Apalagi saat ini ekonomi syariah telah mulai menggeliat baik di Indonesia maupun di dunia sehingga membuat adanya perubahan arah ekonomi.
Salah satu indikasinya terlihat dari aset industri perbankan syariah yang terus tumbuh mengalami pertumbuhan di tengah krisis yang terus bergejolak. Data statistik Bank Indonesia (BI) memperlihatkan pada periode Januari 2008-Januari 2009, kucuran pembiayaan syariah meningkat Rp 11,09 miliar, atau naik 40,9% menjadi Rp 38,2 miliar.
Menurut pengamat bank syariah, M Nadratuzzaman Hosen, idealnya system pembiayaan modal kerja syariah adalah mempergunakan konsep Mudharabah. Konsep ini merupakan akad kerjasama usaha antara dua pihak dengan ketentuan pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola, dan keuntungan usaha dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak.
Konsep ini ideal karena masyarakat dapat memulai usaha tanpa perlu memiliki modal kerja. Tentunya hal itu akan meningkatkan jumlah masyarakat yang hendak memulai berusaha. Hanya sayangnya bank cenderung menghindari konsep ini dengan alas an management resiko. ”Hal ini bisa dipahami karena dalam konsep ini, bank tidak ikut serta dalam managemen usaha yang dimodalinya,” tuturnya saat dihubungi SINDO.
Pada saat ini, bank lebih suka mengenakan konsep Murabahah. Sebuah sistem dimana jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati dengan ketentuan penjual harus memberitahu harga produk yang dibeli dan menentukan suatu tingkat keuntungan (margin) sebagai tambahannya. Namun disisi lain masyarakat kurang begitu menyukai konsep ini karena dianggap mengurangi daya saing produk atau barang yang dihasilkan.
Konsep Musyarakah bisa menjadi jembatan bagi kepentingan nasabah dan bank. Konsep ini mempergunakan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dan masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Musyarakah dapat berbentuk pembiayaan proyek, yaitu pelaku usaha dan Lembaga Keuangan Syariah (selaku pemodal) sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek selesai, nasabah mengembalikan dana yang digunakan beserta bagi hasil yang telah disepakati di awal perjanjian (ijab-kabul).
Bisa juga Modal Ventura, yakni penanaman modal dilakukan oleh lembaga keuangan Syariah untuk jangka waktu tertentu, dan setelah itu lembaga keuangan tersebut melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya kepada pemegang saham perusahaan.
Berbagai sector usaha selain yang berbau haram bisa diberikan modal kerja syariah. Namun kecenderungannya bank-bank syariah memberikan pembiayaan modal kerja syariah ke sector usaha pertanian, pertambangan dan telekomunikasi. ”Bank syariah sebaiknya mulai masuk ke usaha pertanian saat dalam proses pemeliharaan. Sedangkan sector pertambagan pada saat sudah mulai eksploitasi,” tuturnya. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 28, 2009 in syariah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: