RSS

Indonesia Perlu Strategi Kembangkan Ekonomi Syariah

10 Nov

Islamic Development Bank (IDB) atau Bank Pembangunan Islami, merupakan lembaga keuangan multilateral yang didirikan pada tahun 1975 (1392 H) oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi negara anggota dan masyarakat muslim dinegara bukan anggota berlandaskan prinsip-prinsip Islami atau Syariah.
Bank Pembangunan Islam (IDB) dalam kapasitasnya sebagai lembaga keuangan dan pembangunan multilateral memiliki empat lembaga dalam satu kelompok (group) yang masing-masing mempunyai peran dan fungsi sendiri-sendiri, keempat lembaga tersebut adalah Islamic Research and Training Institute (IRTI), Islamic Corporation for the Development of the Private Sector (ICD), Islamic Corporation for the Insurance of Investment and Export Credit (ICIEC) dan Islamic Trade Finance Corporation (ITFC)
Indonesia merupakan negara anggota dan sekaligus salah satu pendiri IDB. Sejak berdirinya, Indonesia telah aktif dengan memanfaatkan berbagai fasilitas IDB, baik berupa pembiayaan, hibah/ grant, capacity building, maupun pemanfaatan bea siswa. Berikut wawancara Seputar Indonesia dengan Direktur IRTI IDB Bambang PS Brodjonegoro mengenai perkembangan ekonomi syariah di INdonesia.

Mengapa Singapura maupun Inggris sangat berminat menjadi trendsetter perbankan syariah?
Sebenarnya jawabannya sederhana karena mereka sudah terbiasa dengan ekonomi syariah. Sedangkan Indonesia kan harus membangun dari awal jadi dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk menuju ke hub. Jangan dulu menjadi hub internasional. Paling tidak menjadi hub regional dulu, baik itu Asia Tenggara ataupun Asia Timur.
Untuk itu, peran pemerintah harus terus ditingkatkan. Walaupun menurut saya pemerintah sudah mulai memberikan perhatian lebih. Indikasinya dapat dilihat dari kebijakan pemerintah dalam mengeluarkan sukuk, baik yang ritel ataupun global bond.
Kemudian pemerintah juga telah mengeluarkan sebagian perangkat UU yang mengakomodir perekonomian syariah. Hanya saja pemerintah masih harus membuat kelengkapan-kelangkapan UU tadi, serta membuat strategi jitu untuk meningkatkan kualitas perekonomian syariah.
Beberapa strategi yang mungkin dibuat pemerintah adalah membuat seperti apa arsitektur perekonomian islam dan bagaimana strategi yang harus dicapai untuk mewujudkannya. Itulah yang harus disupport baik pemerintah maupun bank Indonesia.

Bagaimana peranan dari pelaku ekonomi syariah itu sendiri?
Selain pemerintah, tentu peranan pelaku ekonomi syariah jauh lebih penting. Misalkan adalah Bagaimana cara membuat marketing yang pas. Perbankan syariah tidak lagi menjadi sesuatu yang religius atau terlalu dikaitkan dengan masalah agama. Menurut saya hal itu merupakan tanggungjawab bersama antara BI dan pelakunya sendiri.
Perlu ada perubahan pednekatan agar non muslim mau tertarik di bank syariah. Bahwa ini adalah another side of financial system. Selama ini masyarakat hanya mengetahui financial system biasa. Tidak banyak yang mengetahui sebenarnya sekarang sudah ada yang baru, yakni ekonomi syariah.
Tentu harus terus disosialisasikan seperti apa menabung di perbankan syariah, meminjamnya seperti apa. Obligasi dan pasar modal syariah seperti apa. Inikan seperti menu baru yang pastinya berharap mendapatkan respon dari masyarakat.
Nah ketika menawarkan menu baru itu jangan pakai embel-embel bahwa itu Islami.
Walaupun memang pada dasarnya awalnya dari Islam. Hanya sepertinya perlu digarisbawahi mana yang menjadi masalah agama dan urusan bisnis. Bahwa bisnisnya dilandasi agama, itu bagian dari system.
Kalau untuk orang muslim mungkin merasa lebih nyaman kalau mempergunakan itu. Tapi bagi non muslim, dalam menentukan pilihannya lebih mempertimbangkan apakah memberikan rasa aman dan menguntungkan atau tidak. Karena itulah sekali lagi saya menggarisbawahi strategi marketingnya harus dirubah dengan tidak lagi membawa jargon-jargon agama.
Sebaiknya akad-akad yang ada seperti murabaha, musyarakah atau lainnya sebaiknya diterjemahkan saja. Kita mempergunakan nama-nama yang biasa sajalah. Paling kita hanya perlu memberikan penjelasan perbedaan antara produk syariah dan konvensional. Misalkan kalau selama ini mempergunakan interest, nah kalau di syariah mempergunakan profit sharing.

Pandangan anda terhadap sukuk yang dikeluarkan pemerintah baru-baru ini?
Yang dikeluarkan pemerintah itukan sukuk global. Sebagian besar pembelinya di luar kita. Istilahnya kita mencari dana segar di luar negeri dan mudah-mudahan biayanya tidak terlalu mahal. Jadi, hal itu tidak mengganggu upaya perbankan syariah untuk menarik dana masyarakat. Saya rasa perbankan syariah di Indonesia belum berada pada level itu. Perbankan syariah di Indonesia itu levelnya baru ke arah customer artinya belum pada level menjadi bank yang membantu membiayai berbagai proyek besar. Tapi baru pada level customer.
Makanya sambil menunggu itu, menurut saya lebih baik bank syariah focus terlebih dahulu pada menjaring customer dan menciptakan awareness yang baik di kalangan masyarakat terhadap Islamic bank.

Apa syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bank syariah agar bisa seperti itu?
Ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi, yang utama adalah ukuran perusahaannya. Kita bisa lihat pemerintah sedang giat membangun pembangkit listrik dan itu membutuhkan dana besar. Nah, sekarang ini yang terlibat sebagian besar adalah bank-bank konvensional seperti Bank Mandiri dan BCA
Kalau pada akhirnya bank syariah sampai bisa membiayai proyek infrastruktur dan membantu tugas-tugas public pemerintah secara utuh. Disitulah saya baru melihat ada perkembangan dari bank syariah. Tapi klo masih focus pada customer dan corporate yang tidak besar, berarti target belum tercapai. Makanya perlu ada effort lebih besar agar bank syariah bisa disegani seperti yang saya katakan berada pada level yang sama.
Saya melihat ada beberapa bank syariah yang potensial melakukan itu, yakni BRI syariah, BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri (BSM). BRI Syariah karena nantinya akan focus pada micro finance. Karena BRI coornya pada micro finance tinggal kemampuan mengelola kemampuan syariah dari sisi micro finance.
Sementara BSM dan BNI syariah berpotensi langsung bisa melakukan. BNI Syariah karena akan bekerjasama dengan salah satu anak perusahaan IDB sehingga akan didorong menjadi bank besar. Potensi membantu pendanaan pada proyek-proyek besar pasti menjadi luar biasa. Bank-bank syariah lainnya saya pikir berpotensi menjadi bank menengah, membiayai corporate seperti Bank Muamalat. Ada juga bank yang berkonsentrasi pada finance seperti Bank Mega Syariah. Tapi saya melihat ada satu yang menarik kalau BCA jadi menjalankan syariah.
Kenapa BCA? Karena BCA sudah menjadi bank ritel yang terpopuler dan terbesar di Indonesia. Dengan menjadi BCA syariah tentunya ini akan menjadi point bagus. Pesan yang keluar adalah bank yang telah berpengalamanpun tertarik pada syariah. Bank yang dimiliki non muslimpun tertarik syariah. Kemudian kalau quality of service yang selama ini dimiliki BCA ditularkan juga ke BCA syariah, maka akan menjadi luar biasa.

Apakah multiplier effect ekonomi syariah sudah dirasakan?
Menurut saya multiplier effect itu belum banyak. Makanya keberadaan bank syariah haruslah menciptakan multipler effect yang akhirya membangun sistem keuangan syariah.
Memang sih selain perbankan kita juga ada asuransi syariah. Tapi yang terbangun belum kuat. Jadi memang harus dari ada koordinasi strategi untuk mengembangkan ekonomi syariah. Misalnya ada link antara bank dengan insurance untuk membangun aplikasinya di bank syariah. Kalau itu bisa dilakukan saya berharap ekonomi syariah menjadi lebih solid. Lembaga keuangan syariah harus menambahkan modal. Apakah itu menambah modal dengan menambah investor baru atau dari pemiliknya.
Jadi mau berkompetisi dengan bank konvensional lembaga keuangan syariah harus memperkuat modal agar bisa melakukan ekspansi. Mudah-mudahan dengan semakin banyaknya interest dari bank-bank besar ini akan jadi sumber kekuatan bank-bank syariah untuk terus bergerak maju.

Mungkinkah lembaga keuangan syariah menjadi gaya hidup?
Saya melihatnya. Banyak fitur-fitur di lembaga keuangan syariah yang sebenarnya berpihak kepada customer. Artinya ada jaminan sistemnya tidak mudah kolaps. Menciptakan safety sekaligus menimbulkan trust. Jadi nasabah yang mempercayakan keuangannya pada lembaga keuangan syariah bisa lebih tenang.
Uang nasabah tidak akan hilang akibat dipergunakan hal-hal yang berbau derifatif atau spekulatif. Sebab uang nasabah dipergunakan untuk berbagai macam yang produktif. Itu yang paling penting. Dengan sifat seperti itu, Islamic finance seharusnya bisa lebih baik dari lembaga keuangan konvensional.

Apakah pemerintah perlu membuat badan atau lembaga sendiri untuk mengembangkan ekonomi syariah?
Bank Indonesia sih sudah ada pejabat pada level direktur yang menangani bank syariah. Mungkin perlu ada Deputi Direktur tapi sebelumnya syariah harus terlebih dahulu menunjukan kalau sudah cukup pantas ditangani oleh pejabat sekelas Deputi Direktur.
Kayak di Malaysia bank sentralnya sangat aktif karena bank syariahnya sudah mencapai 10%. Kalau kolaps, system keuangan yang dibangun di Malaysia akan terkena dampak secara lansung. Kalau kitakan masih 2,5%, jadi untuk sementara cukup ditangani oleh direktur terlebih dahulu.
Di samping itu, departemen keuangan juga sudah ada yang secara khusus menangani syariah. Departemen agama juga ada yang menangani wakaf. Jadi menurut saya tidak perlu ada lembaga atau badan yang secara spesifik menangani lembaga keuangan syariah. Cukup diperkuat di BI maupun departemen kuangan dan tentunya terkoordinasi agar tidak tercerai berai. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 10, 2009 in syariah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: