RSS

Memenangi Kesetiaan Karyawan

10 Nov

Merekrut karyawan bukan hal yang sulit. Yang lebih sulit adalah mempertahankan kesetiaan karyawan di tengah banyaknya kendala yang dapat membuat karyawan beralih ke perusahaan lain.
Kenyataan berbicara bahwa perusahaan tidak berpihak kepada kepentingan karyawan, dan memang tidak ada jaminannya. Jadi, jangan salahkan karyawan apabila mereka cenderung menata kemampuan yang dimiliki seoptimal mungkin serta mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya di tempat pekerjaan, agar suatu saat mereka dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaan di tempat lain. Dengan harapan mereka dapat mencari penghidupan dan jenjang karier yang lebih pasti di tempat lain.
Dewasa ini, konsep kesetiaan telah berubah menjadi perlindungan kesejahteraan jangka panjang. Maka, cara ampuh untuk memenangi kesetiaan karyawan adalah dengan membuat mereka yakin bahwa perusahan sendiri setia kepada mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menunjukkan kepada karyawan perihal kebijakan perusahaan yang berpihak kepada kepentingan jangka panjang daripada jangka pendek.
Dalam membicarakan jangka panjang, otomatis mengarah kepada sistem pensiun. “Meski Anda bekerja di sektor swasta, tidak ada salahnya merencanakan pensiun kepada karyawan. Dengan demikian mereka bisa menjadi tenang memirkan masa tua, dan dampaknya mereka dapat bekerja dengan merasa lebih nyaman di perusahaan Anda” ujar konsultan keefektifan bisnis Mario Teguh.
Cara meraih kesetiaan karyawan ini, juga dapat ditempuh dengan jalan lain. Salah satunya dengan senantiasa melibatkan karyawan. Menurut Mario, pemimpin yang baik tidak pernah luput mengikutsertakan karyawan atas keberhasilan yang telah dicapai perusahaan. Sayangnya, Mario menilai masih banyak atasan yang menuai sukses tanpa mengakui kesuksesan yang dicapai tersebut dengan melibatkan andil karyawan. Padahal kesuksesan yang dicapai sudah barang tentu terjadi berkat kerjasama dan kekompakan tim. Kalau sudah begini, tentu karyawan tidak lagi akan memandang simpatik pada atasannya.
Terlebih lagi jika sang atasan memberikan penilaian yang tidak adil. Dimana dalam suatu perusahaan berlaku sistem favoritisme. Dengan demikian, hanya karyawan tertentu saja yang memiliki kejelasan karier. Sementara karyawan lain yang lebih pintar namun memiliki sifat yang tidak sesuai dengan kemauan atasan, akhirnya hanya bisa terpaku pada posisi yang sama dalam waktu yang lama.
Dapat dibayangkan suasana kerja seperti apa yang terbangun pada perusahaan tersebut. Padahal dalam bekerja, karyawan mengedepankan suasana hati yang nyaman. Hal ini yang sering dilupakan oleh perusahaan. Jika karyawan dapat memilih, mungkin mereka akan beralih ke pekerjaan dengan pendapatan yang rendah tetapi dengan suasana hati bekerja yang menyenangkan. Ketimbang bekerja dengan gaji yang tinggi, namun harus menghadapi atasan yang banyak menuntut dan menekan.
Inilah permasalahan lain yang dapat membuat simpatik karyawan pada atasannya berkurang atau lenyap sama sekali. Bekerja dengan atasan yang memiliki sikap buruk, memang menimbulkan stres terhadap karyawan. Mereka diibaratkan seperti barang dagangan saja. Jika pantas dibayar, sebaliknya jika tidak maka dibuang. Padahal ada yang dilupakan atasan, karyawan semakin lama bekerja semakin cerdas. Jika merasa perusahaan telah tidak bersahabat dengan dirinya, tidak ada satupun yang dapat menghalangi niat mereka untuk hengkang dari tempat itu.
“Karyawan ini akan mencari tempat kerja yang potensi pertumbuhannya baik. Tidak heran banyak perusahaan muda yang progresif, memiliki karyawan yang loyal,” kata Mario yang mempunyai acara di salah satu televisi swasta ini. Lebih jauh Mario menuturkan, hal ini dikarenakan perusahaan itu mengkomunikasikan tujuan perusahaan dan mengajak karyawan turut aktif dalam pencapaian tujuan perusahaan.
Lantas bagaimana mengetahui apakah Anda atasan yang baik atau buruk? Menurut Direktur Internasional John Robert Powers Indonesia Indayati Oetomo, cara terbaik untuk mengetahuinya adalah dengan bertanya langsung kepada bawahan.
Kesempatan ini sekaligus dapat digunakan untuk mengevaluasi diri sendiri, dari berbagai kritik konstruktif yang dilemparkan oleh bawahan. Tidak ada salahnya untuk menanyakan hal ini kepada karyawan. Namun tentunya sebagai seorang yang bijak, Anda pun harus siap dengan berbagai kritik termasuk saran yang dilayangkan kepada Anda.
Memang tidak mudah untuk membuat orang berkata jujur, disamping mereka takut menyinggung perasaan atasannya. Jangankan di perusahaan nasional, di perusahaan asing pun karyawannya masih berpikir dua kali untuk mengemukakan pendapat agar tidak menyinggung aatsan Nah, untuk itu ketika Anda meminta masukan dari mereka, jelaskan apa yang Anda bisa dapat dari masukan mereka dan betapa hal itu sangat berharga. Ciptakan suatu forum diskusi yang santai agar suasana mengalir akrab,” pungkas Indayati.
Dengan cara ini atasan dapat memenangkan hati karyawan dan memperoleh loyalitas mereka. Indayati mengatakan, materi bukanlah cara terbaik yang dapat digunakan untuk memenangkan hati karyawan. Satu hal yang tidak disadari perusahaan, bahwa uang hanya bersifat membiasa. Hal ini dibenarkan oleh Mario. Menurut pria yang sekaligus motivator andal ini, pendapatan yang tinggi per bulan yang diberikan kepada karyawan, lama kelamaan akan menjadi tidak istimewa lagi di mata karyawan.
Ini dikarenakan mereka telah terbiasa dengan pendapatan tinggi. Namun sesungguhnya uang bukan segalanya bagi seorang karyawan dalam mencari suatu pekerjaan. Orientasi karyawan akan berbalik pada lingkungan kerja yang kondusif, dimana di dalamnya terjalin hubungan harmonis antara sesama karyawan dan dengan atasan.
Maka Mario mengingatkan, perlu pendekatan khusus untuk membangun kesetiaan karyawan ini. Idealnya program kesetiaan karyawan tersebut, dilaksanakan sedini mungkin. “Sebab semakin lama karyawan akan berpihak kepada keuntungan pribadi, bukan kepada siapapun,” ujar Mario mengakhiri pembicaraan. (Seputar Indonesia)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 10, 2009 in kantor

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: